Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza mencapai titik nadir pada Minggu, 28 Desember 2025. Seorang wanita muda Palestina dilaporkan tewas di lingkungan Al-Rimal, Gaza Barat, setelah tembok bangunan yang sebelumnya rusak akibat pengeboman Israel runtuh menimpa tenda pengungsiannya. Tragedi ini terjadi di tengah terjangan badai hujan deras dan angin kencang yang menghancurkan kamp-kamp pengungsian yang sudah sangat rapuh. Sejak awal badai pada bulan Desember ini, total 17 warga Palestina, termasuk empat anak-anak, telah kehilangan nyawa akibat dampak cuaca ekstrem yang memperparah penderitaan mereka di bawah bayang-bayang perang.
Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa sekitar 90% tempat penampungan bagi para pengungsi yang kehilangan rumah kini telah terendam banjir. Badai ini berdampak langsung pada lebih dari seperempat juta jiwa dari total 1,5 juta pengungsi yang tinggal di tenda-tenda darurat. Angin kencang telah merobek dan mencabut tenda-tenda yang usang, membiarkan ribuan keluarga terpapar langsung udara dingin yang menggigit dan hujan lebat tanpa perlindungan apa pun. Pemerintah Kota Gaza dan ruang operasi darurat pemerintah menyatakan kebutuhan mendesak akan 200.000 unit rumah prafabrikasi (prefab) untuk menyelamatkan warga dari kondisi cuaca yang mematikan, namun blokade Israel terhadap pintu-pintu perbatasan terus menghambat masuknya bantuan shelter dan perlengkapan pemanas.
Di saat yang sama pada Minggu, 28 Desember, situasi di Tepi Barat dan Yerusalem yang diduduki juga diwarnai oleh serangkaian pelanggaran oleh pasukan pendudukan dan kelompok pemukim Israel. Di Hebron, pasukan Israel menggerebek rumah-rumah warga di komunitas Wadi al-Jawaya, sementara di Huwara, Nablus, kelompok pemukim melakukan serangan brutal yang mencakup pencabutan puluhan pohon zaitun milik petani Palestina. Ketegangan serupa terjadi di Khallat al-Sidra, di mana sedikitnya 40 pohon zaitun ditebang oleh pemukim sebagai bagian dari intimidasi berkelanjutan.
Laporan lapangan juga mengonfirmasi penarikan pasukan Israel dari kota Qabatiya, Jenin, setelah melancarkan operasi besar-besaran yang mengubah rumah-rumah sipil menjadi barak militer sementara. Sementara itu, di Yerusalem Timur, pasukan pendudukan menyerbu lingkungan Al-Bustan di Silwan, memicu respons dari pemuda Palestina yang menargetkan bus pemukim dengan batu di dekat kota Hizma. Rangkaian peristiwa ini menegaskan bahwa warga Palestina kini menghadapi tekanan ganda: ancaman kematian dari cuaca ekstrem di Gaza dan agresi militer serta pemukim yang semakin intensif di Tepi Barat.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: CGTN



