Skip to main content

Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza melaporkan pada Kamis, 5 Februari 2026, mengenai kedatangan 54 jenazah dan 66 peti berisi potongan tubuh serta organ manusia yang baru saja dilepaskan oleh pihak pendudukan Israel melalui Palang Merah Internasional. Saat ini, tim medis sedang bekerja ekstra keras untuk melakukan proses identifikasi dan dokumentasi sesuai protokol medis yang berlaku sebelum menyerahkan sisa-sisa jasad tersebut kepada pihak keluarga. Sebelumnya, 15 jenazah lainnya juga telah tiba di Kompleks Medis Al-Shifa setelah dilepaskan oleh pihak Israel.

Kondisi di lapangan semakin mencekam setelah Hamas mengeluarkan pernyataan resmi pada Rabu malam yang mengutuk keras peningkatan intensitas pengeboman Israel di Jalur Gaza. Hamas menyebut aksi ini sebagai kelanjutan langsung dari genosida dan menegaskan bahwa klaim Israel mengenai penembakan salah satu tentaranya hanyalah dalih rapuh untuk membenarkan pembantaian warga sipil. Menurut Hamas, pihak pendudukan sengaja mengabaikan ketentuan gencatan senjata demi memaksakan realitas penindasan permanen di Gaza.

Di sisi lain, militer Israel melalui juru bicaranya, Avichai Adraee, mengeklaim bahwa seorang perwira cadangan dari Brigade Alexandroni (3) terluka parah akibat tembakan di area “Yellow Line”, Gaza Utara. Israel menuduh insiden tersebut sebagai pelanggaran mencolok terhadap kesepakatan gencatan senjata, yang kemudian mereka balas dengan serangan tank dan serangan udara besar-besaran di wilayah tersebut sejak fajar tadi. Eskalasi ini telah merenggut nyawa sedikitnya 18 warga Palestina, dengan 11 korban di antaranya jatuh di lingkungan Al-Tuffah dan Al-Zaytoun, Kota Gaza.

Situasi kemanusiaan yang terus memburuk ini terjadi tepat saat Amerika Serikat mengumumkan dimulainya fase kedua dari rencana perdamaian Presiden Donald Trump. Rencana tersebut mencakup 20 poin utama, di antaranya pembangunan kembali Gaza, pelucutan senjata kelompok perlawanan, serta pembentukan komite administrasi transisi teknokratis Palestina yang akan beroperasi di bawah pengawasan “Dewan Perdamaian”.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera