Di tengah dinamika keamanan yang meningkat, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan kembali posisi strategis negaranya bahwa penyelesaian masalah melalui jalur diplomasi harus diutamakan di atas opsi militer. Dalam sebuah pembicaraan telepon dengan Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, Presiden Pezeshkian menyatakan keyakinan teguh Teheran bahwa peperangan tidak akan membawa keuntungan bagi pihak mana pun, baik bagi Iran, Amerika Serikat, maupun stabilitas kawasan secara luas.
Berdasarkan pernyataan resmi dari kantor kepresidenan, Presiden Pezeshkian menyampaikan komitmen penuh Teheran untuk menyelesaikan berbagai persoalan melalui meja perundingan. Beliau mengungkapkan harapannya agar pihak lawan menyadari bahwa ancaman dan penggunaan kekuatan fisik tidak akan pernah bisa memaksa Iran untuk tunduk dalam negosiasi. Sejalan dengan hal tersebut, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi juga menekankan bahwa solusi diplomatik adalah satu-satunya jalan terbaik untuk meredam krisis guna menghindarkan Timur Tengah dari ketegangan dan instabilitas yang lebih parah.
Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, memberikan klarifikasi terkait situasi perundingan saat ini. Menanggapi apa yang beliau sebut sebagai propaganda buatan dan perang media yang sengaja diciptakan untuk memicu kekacauan informasi, Ali Larijani mengonfirmasi bahwa struktur yang diperlukan untuk proses negosiasi sebenarnya terus mengalami kemajuan dan perkembangan. Pernyataan ini beliau sampaikan melalui unggahan di platform X pada Sabtu malam, setelah sebelumnya melakukan kunjungan penting ke Moskow untuk bertemu dan mengadakan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Selain itu, dinamika diplomatik di Teheran semakin intens dengan laporan kunjungan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, ke ibu kota Iran tersebut.
Di sisi lain, merespons eskalasi ancaman Amerika Serikat di kawasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melalui Wakil Panglima Tertinggi, Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi, menegaskan bahwa seluruh pergerakan musuh saat ini berada di bawah pengawasan dan kendali penuh. Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran kini berada dalam kondisi kesiapan yang jauh lebih tinggi dibandingkan masa-masa sebelumnya, termasuk jika dibandingkan dengan periode perang dua belas hari. Beliau mengingatkan bahwa berbagai ancaman yang dilontarkan musuh saat ini hanyalah bagian dari operasi psikologis yang bertujuan untuk mengendalikan atmosfer ketakutan perang, dan beliau memperingatkan semua pihak agar tidak terjebak dalam perang urat syaraf tersebut.
Ketegasan Iran juga disuarakan oleh Ebrahim Azizi, Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Republik Islam Iran. Beliau menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan setiap ancaman terhadap keamanan rakyatnya berlalu tanpa jawaban, di mana pun ancaman itu muncul di dunia. Merujuk pada semangat perayaan kemenangan revolusi, Ebrahim Azizi mengirimkan pesan kuat kepada musuh-musuh Iran bahwa keamanan rakyat adalah “garis merah” yang tidak boleh dilanggar. Beliau memperingatkan bahwa jika keamanan nasional ini terganggu, maka pihak-pihak yang bertanggung jawab tidak akan pernah merasakan kedamaian di mana pun mereka berada.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Anadolu Agency


