Parlemen Iran pada Senin, 6 April 2026, secara resmi mulai membahas rancangan undang-undang (RUU) untuk mempertegas kedaulatan penuh atas Selat Hormuz melalui laporan yang dirilis oleh kantor berita IRNA. Pertemuan tersebut meninjau berbagai dimensi hukum, lingkungan, keamanan, dan ekonomi terkait pengelolaan selat sebagai jalur air strategis nasional guna menyusun kerangka hukum komprehensif yang serupa dengan aturan pada jalur air internasional lainnya di dunia. Juru bicara dewan kepemimpinan parlemen, Abbas Goudarzi, menegaskan bahwa dalam kondisi keamanan yang baru, Selat Hormuz telah bertransformasi menjadi keunggulan strategis bagi Iran dan tidak akan kembali ke status operasional seperti sebelumnya. Langkah legislatif ini diambil tepat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperbarui ancaman melalui platform Truth Social, yang menyatakan bahwa hari Selasa akan menjadi hari penghancuran bagi jembatan dan pembangkit listrik di Iran jika selat tersebut tidak segera dibuka oleh Teheran.
Di jalur diplomasi internasional, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi melakukan pembicaraan telepon intensif dengan rekan sejawatnya dari Rusia dan India guna membahas perkembangan regional yang semakin meruncing. Dalam percakapannya dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Araqchi menegaskan bahwa ancaman Amerika untuk menyerang fasilitas energi merupakan pengakuan eksplisit atas rencana melakukan kejahatan perang. Ia mendesak Dewan Keamanan PBB dan International Atomic Energy Agency (IAEA) untuk segera bertindak mengutuk agresi Amerika-Israel yang menyasar infrastruktur sipil dan fasilitas nuklir Bushehr. Menanggapi hal tersebut, Sergey Lavrov menyatakan posisi prinsipil Rusia dalam mengecam serangan ilegal tersebut dan memperingatkan agar setiap peluang diambil guna mencegah eskalasi konflik lebih lanjut yang dapat menghancurkan stabilitas kawasan secara total.
Sementara itu, dalam pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar, Araqchi juga menyatakan keprihatinannya atas penargetan infrastruktur industri, produksi, dan fasilitas nuklir damai Iran yang berada di bawah pengawasan internasional. Ia menekankan tekad bulat rakyat serta angkatan bersenjata Iran untuk membela kepentingan nasional dan memperingatkan dampak luas dari ekspansi agresi Amerika-Israel terhadap stabilitas dunia. Menlu India sendiri menekankan pentingnya upaya memulihkan keamanan di kawasan serta menegaskan dukungan negaranya terhadap upaya regional maupun internasional untuk menghentikan perang yang telah memberikan beban berat bagi ekonomi global.
Ketegangan militer ini memberikan dampak instan dan signifikan pada pasar energi dunia sebagaimana dilaporkan oleh Reuters pada hari Senin. Harga minyak dunia dibuka melonjak tajam akibat perang Amerika-Israel terhadap Iran yang terus mengganggu rantai pasokan pasokan energi global. Minyak mentah Amerika Serikat tercatat naik sebesar dua dolar menjadi 113,6 per barel, sementara kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) melompat melampaui 115 per barel. Kenaikan harga ini dipicu oleh kelumpuhan navigasi di Selat Hormuz yang merupakan jalur bagi seperlima pasokan minyak dunia, serta diperparah oleh ancaman Donald Trump yang secara spesifik menargetkan infrastruktur minyak Iran dan janji balasan Teheran untuk menghantam fasilitas kilang serta desalinasi air milik negara-negara sekutu Amerika di kawasan jika ancaman tersebut dilaksanakan.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Anadolu Agency

