Pemimpin redaksi MENA Inscripted, Dr. Leila Hatoum, menyoroti fakta yang sangat sensitif terkait peran Angkatan Bersenjata Lebanon, sebuah realitas yang menurutnya nyaris tidak diketahui oleh dunia internasional. Ia menegaskan bahwa tentara Lebanon hanya dapat bertindak berdasarkan keputusan resmi kabinet Lebanon secara kolektif. Di luar perintah-perintah politik tersebut, tentara tidak memiliki kewenangan untuk mengambil inisiatif atau tindakan sepihak apa pun.
Menurut Hatoum, peran tentara semata-mata terbatas pada pelaksanaan keputusan yang telah diambil sebelumnya, serta kepatuhan terhadap batasan-batasan yang ditetapkan dalam keputusan tersebut. Ia menyebut bahwa ruang gerak institusi militer Lebanon sangat dibatasi oleh kerangka politik yang ada.
Hatoum juga mengungkapkan bahwa ketika tentara Lebanon hendak melakukan inspeksi ke sebuah desa, prosedur yang berlaku mengharuskan adanya pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak musuh Israel melalui jalur-jalur tertentu, dengan tujuan menghindari penargetan militer. Dengan nada prihatin, ia menambahkan bahwa tentara hanya diberikan kebebasan terbatas berupa rencana pergerakan yang telah ditentukan sebelumnya.
Dalam beberapa hari terakhir, Hatoum mengaku telah mengunjungi wilayah perbatasan selatan Lebanon, termasuk desa-desa Houla, Aita al-Shaab, Aita al-Jabal, Blida, Habib, dan sejumlah desa lainnya. Ia menyampaikan bahwa seluruh warga yang ditemuinya di desa-desa yang masih berpenghuni sepakat bahwa negara, Perserikatan Bangsa-Bangsa, maupun pihak internasional lainnya nyaris tidak pernah hadir di wilayah mereka. Kehadiran tentara Lebanon pun, menurut warga, hanya sesekali dan bersifat terbatas, tanpa penempatan permanen.
Sementara itu, Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran menyatakan dalam konferensi internasional pertama bertajuk “Fida’ al-Quds” bahwa Hezbollah Lebanon telah berhasil melumpuhkan pergerakan militer Israel. Ia menegaskan bahwa Israel tidak berani melucuti senjata Hezbollah.
Dalam konferensi yang digelar untuk mengenang Brigadir Jenderal Izadi (Hajj Ramadan) tersebut, Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi menekankan sentralitas isu Palestina. Ia menyatakan bahwa perlawanan merupakan manifestasi nyata dari perjuangan pembebasan Palestina. Menurutnya, pesan pertama perlawanan sejak awal adalah keharusan membebaskan Palestina, dan tanpa tujuan tersebut, perlawanan akan kehilangan makna filosofis keberadaannya.
Vahidi menegaskan bahwa tidak mungkin seseorang mengklaim diri sebagai revolusioner, berkomitmen pada nilai-nilai Islam universal, atau mengusung panji Islam, tanpa menempatkan pembebasan Palestina sebagai agenda utama. Ia menyebut bahwa inilah ajaran Imam Khomeini dan Pemimpin Revolusi Islam Iran, yang telah diuji melalui puluhan tahun perjuangan.
Ia juga menyinggung sosok Hajj Ramadan sebagai figur yang mengabdikan lebih dari empat dekade hidupnya di jalur perlawanan, sebuah pengabdian yang jarang tertandingi. Menurut Vahidi, sang jenderal gugur sebagai syahid yang sepenuhnya merasakan penderitaan rakyat Palestina, bersedih atas luka mereka, dan bergembira atas setiap capaian mereka.
Vahidi menegaskan bahwa Palestina merupakan poros utama dalam pemikiran Revolusi Islam Iran hingga saat ini, serta menjadi fondasi menuju tujuan-tujuan yang lebih besar. Ia menyatakan bahwa pembebasan Palestina adalah syarat bagi lompatan besar revolusi menuju masa depan yang lebih gemilang.
Ia juga menyoroti posisi Palestina dalam opini publik global saat ini, dengan menyatakan bahwa suara Gaza kini bergema di seluruh dunia. Menurutnya, hampir tidak ada lagi manusia yang berakal sehat dan menjunjung keadilan yang tidak berpihak pada Palestina.
Lebih lanjut, Vahidi menilai bahwa peristiwa Gaza telah membangunkan kesadaran dunia. Ia menyebut bahwa kebangkitan kali ini tidak bermula dari negara-negara Arab seperti sebelumnya, melainkan dari reruntuhan rumah-rumah di Gaza, dari anak-anak yang gugur di bawah puing-puing, dan dari mereka yang wafat dalam kelaparan tanpa sempat bersuara.
Ia menilai bahwa kombinasi ketidakadilan ekstrem dan kekuasaan telah melahirkan arus sejarah baru yang tidak dipahami oleh para pemimpin Amerika Serikat. Menurutnya, perlawanan telah menembus jantung musuh, hingga dampaknya terasa di pusat-pusat kekuatan Barat, termasuk kampus-kampus Amerika.
Menutup pernyataannya, Vahidi menegaskan bahwa Israel tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi Hezbollah dalam perang darat. Ia menyatakan bahwa meski Israel mengandalkan keunggulan udara dan serangan jarak jauh, mereka tidak berani melakukan konfrontasi langsung di darat karena Hezbollah telah melumpuhkan pergerakan mereka sepenuhnya.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Times of Israel



