Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara resmi telah memberikan instruksi kepada Dewan Keamanan Nasional Tertinggi untuk mencabut segala bentuk pembatasan internet menyusul berakhirnya rangkaian peristiwa kerusuhan di negara tersebut. Dalam pernyataan resmi pada pertemuan kabinet Minggu malam, 18 Januari 2026, Masoud Pezeshkian menekankan bahwa langkah ini diambil atas dasar kebutuhan mendesak untuk memfasilitasi bisnis daring serta memudahkan jalur komunikasi warga yang sempat terhambat selama krisis. Beliau secara spesifik telah memerintahkan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Ali Larijani, untuk mengeksekusi pencabutan pembatasan tersebut dalam waktu sesingkat mungkin. Selain isu akses informasi, beliau juga mengumumkan bahwa pemerintah tengah bersiap untuk mengimplementasikan salah satu proyek reformasi terbesar di bidang mata uang dan ekonomi sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan nasional dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat pasca-konflik.
Mengenai penanganan aspek hukum terhadap mereka yang terlibat dalam peristiwa baru-baru ini, Masoud Pezeshkian menegaskan pentingnya menjalankan proses tersebut dengan tingkat akurasi dan keadilan yang paling tinggi. Berdasarkan hasil konsultasi intensif dalam Dewan Keamanan Nasional Tertinggi serta pertemuannya dengan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, disepakati bahwa peninjauan berkas tahanan harus dilakukan dengan sangat teliti dan adil. Masoud Pezeshkian menyampaikan bahwa terhadap individu-individu yang tidak memainkan peran utama atau tidak terlibat langsung dalam peristiwa teroris, akan diperlakukan dengan prinsip belas kasih Islam. Namun, beliau memberikan penekanan yang sangat keras bahwa bagi para pembunuh dan pemimpin dari peristiwa teroris tersebut, proses hukum tetap mengikuti mekanisme peradilan dan keamanan khusus yang sudah ada dan tidak boleh diabaikan sama sekali demi tegaknya hukum. Beliau menegaskan bahwa sekadar penahanan tidaklah cukup, karena penegakan hak-hak dan keadilan yang utuh bagi para korban harus benar-benar dijamin oleh negara.
Masoud Pezeshkian juga memberikan respons yang sangat tajam melalui akun platform X miliknya pada hari Minggu, menanggapi pernyataan-pernyataan provokatif dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Beliau menegaskan bahwa setiap bentuk serangan atau penghinaan yang diarahkan kepada Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam adalah setara dengan perang habis-habisan terhadap seluruh rakyat Iran. Terkait kondisi ekonomi, beliau menjelaskan kepada publik bahwa jika terdapat penderitaan dan kesulitan dalam kehidupan rakyat Iran yang dicintai, salah satu alasan utamanya adalah permusuhan yang terus berlanjut serta sanksi-sanksi tidak manusiawi yang dipaksakan oleh pemerintah Amerika Serikat dan para sekutunya. Hal ini merupakan upaya sistematis pihak asing untuk melemahkan kedaulatan Iran dari dalam melalui tekanan ekonomi.
Senada dengan presiden, Pemimpin Tertinggi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dalam pertemuannya dengan berbagai segmen masyarakat pada hari Sabtu, memberikan klarifikasi mendalam bahwa Presiden Amerika Serikat telah menimbulkan kerusakan serius bagi bangsa Iran, yang menjadikannya sebagai seorang penjahat di mata hukum dan sejarah. Beliau menegaskan bahwa Amerika Serikat sedang berupaya dengan segenap kekuatannya untuk “menelan” kembali Iran dan memulihkan kontrol ekonomi, politik, serta militer mereka, sebagaimana situasi eksploitasi yang terjadi sebelum kemenangan Revolusi Islam yang dipimpin oleh Imam Khomeini. Beliau menggambarkan kerusuhan baru-baru ini sebagai “fitnah yang berasal dari Amerika,” di mana Presiden AS sendiri terlibat secara langsung melalui dukungan publik dan militer terhadap elemen-elemen kriminal. Beliau menilai dukungan tersebut menjadikannya sebagai penjahat karena telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan penyebaran tuduhan-tuduhan palsu yang keji terhadap martabat rakyat Iran.
Dalam rapat pemerintah tersebut, Masoud Pezeshkian juga melontarkan kritik keras terhadap perilaku para pemimpin negara tertentu, terutama Amerika Serikat, entitas Zionis, dan para pelindungnya yang dianggap munafik. Beliau mempertanyakan standar moral mereka dengan mengajukan pertanyaan retoris apakah ada tempat lain di dunia di mana aksi membakar masjid, merusak pasar, membunuh anak-anak yang tidak bersalah, hingga menyerang lansia secara brutal dianggap sebagai bagian dari ekspresi protes yang sah. Sebagai langkah strategis untuk masa depan, beliau menginstruksikan dilakukannya studi menyeluruh mengenai pendekatan keamanan, intelijen, dan operasional dalam menangani pengunjuk rasa dan perusuh di setiap provinsi secara spesifik. Beliau menekankan perlunya meninjau dan menganalisis kekurangan dalam manajemen serta kinerja aparat dengan memanfaatkan pendapat dari para profesor universitas, sosiolog, dan organisasi-organisasi populer. Analisis multidimensi ini bertujuan untuk memetakan kekuatan dan kelemahan secara jujur guna mengatasi masalah manajemen yang terjadi, sekaligus menjadi landasan dalam merumuskan protokol pengambilan keputusan awal yang lebih efektif dalam menghadapi situasi darurat di masa mendatang.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Times of Israel



