Skip to main content

Garis kuning yang ditetapkan dalam perjanjian Gaza menjadi hasil paling menonjol dari kesepakatan tersebut. Garis ini bukan hanya menggambarkan batas fase pertama penarikan Israel, tetapi juga menciptakan kenyataan baru di lapangan. Ia membentang melintasi lebih dari separuh wilayah Jalur Gaza dan menghalangi puluhan ribu warga untuk kembali ke lingkungan mereka yang telah hancur.

Garis yang digambar pada peta perjanjian gencatan senjata bulan Oktober itu memisahkan Gaza dari timur ke barat, memanjang dari ujung utara hingga ujung selatan wilayah tersebut. Melalui garis ini, pasukan pendudukan Israel menguasai sekitar 50 persen area Jalur Gaza.

Wilayah yang dicengkeram Israel mencakup kota Beit Lahia dan Beit Hanoun di bagian utara, serta pinggiran timur kamp Jabalia. Di Gaza bagian tengah dan timur, pendudukan menguasai sejumlah besar lingkungan permukiman, termasuk Al-Shuja’iya, Al-Tuffah, Al-Sha’af, dan bagian timur Al-Zaytoun. Lebih ke selatan, garis itu merambah ke kamp Al-Bureij dan Al-Maghazi, serta wilayah timur Deir al-Balah. Ratusan hektare lahan pertanian turut dirampas, memaksa para petani meninggalkan tanah yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan mereka.

Tidak ada penduduk yang diizinkan kembali ke daerah-daerah yang kini berada di balik garis kuning. Israel membangun penghalang beton besar yang memotong wilayah menjadi dua, memperdalam krisis kemanusiaan yang telah berlangsung berbulan-bulan. Dalam beberapa hari terakhir, pendudukan berusaha meneguhkan batas-batas baru ini melalui operasi militer berkelanjutan—mulai dari pembongkaran rumah, penembakan artileri, hingga menembak siapa saja yang mendekat ke garis tersebut. Puluhan warga Palestina telah tewas dan pasukan Israel perlahan bergerak melewati batas-batas yang mereka tetapkan sendiri. Di sejumlah lokasi, mereka maju hingga 300–400 meter melampaui garis itu, terus memperluas wilayah yang dikuasai dan kini mendekati Jalan Salah al-Din.

Di tengah kondisi ini, Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan bahwa jumlah korban perang yang digambarkan sebagai genosida oleh pihak Palestina telah mencapai 70.112 orang tewas dan 170.986 lainnya luka-luka sejak 7 Oktober 2023. Dalam data terbaru yang dirilis Senin, jumlah warga yang dibunuh pasca-gencatan senjata 11 Oktober mencapai 356 orang, sementara 909 lainnya terluka. Sejak gencatan itu, sebanyak 616 jenazah yang terbunuh sebelum masa jeda berhasil ditemukan dari reruntuhan.

Dalam 24 jam terakhir, sembilan jenazah yang gugur pada hari-hari sebelumnya dibawa ke rumah sakit di Gaza, bersama satu orang terluka. Banyak korban lain masih berada di bawah reruntuhan atau tergeletak di jalanan, karena tim ambulans dan pertahanan sipil tidak dapat menjangkau mereka akibat intensitas serangan dan situasi lapangan yang terus memburuk.

Dilansir dari berbagai sumber.

Sumber gambar: Middle East Eye