Konon, pada suatu pagi seekor anak domba pergi ke sungai untuk minum. Di hulu, seekor serigala sedang minum lebih dulu. Begitu melihat anak domba itu, sang serigala berteriak, “Kurang ajar! Kau mengeruhkan airku!” Anak domba menjawab tenang, “Air mengalir dari atas ke bawah. Kau berada di atas dan minum lebih dulu. Bagaimana mungkin aku mengeruhkan airmu?” Serigala itu tak peduli dan berkata, “Bukankah kaulah domba yang tahun lalu memfitnahku?” Anak domba menjawab, “Aku bahkan belum lahir waktu itu. Bukankah kau lihat betapa kecilnya aku?” Serigala lalu berkata, “Kalau bukan kau, pasti saudaramu!” Anak domba menjawab, “Aku tak punya saudara.” Serigala tak menyerah: “Kalau begitu, pasti keluargamu!” Belum sempat anak domba itu membalas, sang serigala pun menerkam dan memakannya.
Kisah rakyat Eropa ini menggambarkan bahwa ketika kekuasaan berada di tangan pihak yang tak memiliki moral atau prinsip, maka segala alasan—betapa pun mengada-adanya—bisa dijadikan pembenaran untuk mencapai tujuan, menghapus keadilan dan hak pihak lain. Tidak ada perumpamaan yang lebih tepat saat ini selain alasan-alasan yang dipakai Presiden AS Donald Trump untuk “menerkam” Venezuela. Alasan-alasan itu bahkan lebih rapuh dibanding dalih serigala dalam kisah tersebut, misalnya klaim bahwa Amerika sedang “memerangi kartel narkoba.” Dengan dalih itu, Trump mengerahkan armada laut AS ke sekitar Venezuela dan memberlakukan blokade udara sebagai persiapan invasi, mengabaikan hukum internasional, norma global, kedaulatan negara, dan martabat bangsa, semata-mata karena ia memiliki kekuatan yang membuatnya merasa dapat bertindak tanpa batas.
Amerika Serikat selalu menutupi motif sesungguhnya dalam setiap perang yang mereka lakukan melalui kebohongan dan manipulasi demi menyesatkan opini publik. Meski demikian, tujuan politik di balik gertakan militer AS di kawasan Karibia cukup jelas bagi para analis dan masyarakat umum. Sejak era George W. Bush, Washington memandang Venezuela sebagai ancaman strategis bagi keamanan nasional AS. Di masa Trump, permusuhan itu menjadi semakin terbuka, sejalan dengan slogannya “Make America Great Again,” sebuah proyek yang dibangun melalui perampasan sumber daya negara lain—seperti yang telah terjadi di Libya, Suriah, Irak, dan kini ditujukan kepada Venezuela.
Dalam konteks ini, Venezuela bukan hanya target politik, tetapi juga ekonomi. Negara itu memiliki cadangan minyak terbesar di dunia—lebih dari 303 miliar barel—serta cadangan emas besar (161 ton) dan kekayaan mineral raksasa di kawasan Sabuk Orinoco, yang nilainya diperkirakan mencapai dua triliun dolar. Para ahli berpendapat bahwa kerakusan Trump terhadap kekayaan Venezuela juga dipicu oleh krisis ekonomi struktural AS: defisit perdagangan dengan Tiongkok yang melampaui 295 miliar dolar pada 2024, serta defisit dengan Uni Eropa sekitar 235 miliar dolar. Dalam situasi seperti itu, penguasaan sumber daya strategis Venezuela menjadi alat untuk mempertahankan dominasi global AS.
Selain demi kekayaan Venezuela, Trump juga berupaya mengusir pengaruh Rusia dan Tiongkok dari kawasan Karibia. Dua negara itu telah menjalin kerja sama energi dan militer dengan Caracas, sebuah langkah yang dianggap Washington sebagai tantangan langsung terhadap pengaruhnya di belahan bumi barat.
Ironisnya, Amerika mencoba membenarkan rencana agresinya dengan langkah-langkah yang begitu absurd, termasuk menetapkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan para pejabatnya sebagai anggota “organisasi teroris asing” bernama “Kartel Matahari,” serta menawarkan hadiah 50 juta dolar untuk informasi tentang Maduro—seolah-olah ia hanyalah pemimpin geng kriminal, bukan presiden sah dari negara berdaulat.
Dalih yang selemah itu bahkan dikritik oleh The New York Times. Kolumnis Michelle Goldberg memperingatkan bahwa Amerika sedang melaju menuju konfrontasi militer tanpa debat publik yang memadai dan tanpa alasan masuk akal. Ia mengutip analis Crisis Group, Phil Johnson, yang menyebut bahwa “kartel” tersebut sebenarnya tidak pernah ada dan hanya istilah yang diciptakan media puluhan tahun lalu sebagai label ejekan. Ia juga menyoroti bahwa narasi “perang melawan narkoba” tidak memiliki kredibilitas, sebab Venezuela bukan sumber fentanyl, dan sebagian besar narkoba yang melewati wilayahnya justru menuju Eropa, bukan AS.
Meskipun ada pengerahan militer besar-besaran dan ancaman keras dari pemerintahan Trump, banyak pengamat—seperti yang dilaporkan Foreign Policy dan media lain—menilai bahwa langkah tersebut lebih menyerupai “diplomasi kapal perang” ketimbang persiapan invasi nyata. Tujuannya adalah memecah elite kekuasaan di Caracas, mendorong penggulingan Maduro, atau setidaknya menekan Venezuela agar memberikan konsesi kepada perusahaan-perusahaan Amerika.
Dua kali Trump menelepon Maduro di puncak krisis juga menunjukkan bahwa AS belum benar-benar memutuskan melakukan invasi darat. Jika invasi sudah final, ia tak akan merendahkan dirinya dengan melakukan kontak langsung seperti itu.
Kini, serigala Amerika tampaknya tak lagi sama seperti dahulu—tidak semudah itu melahap negara-negara Amerika Latin. Venezuela pun bukan lagi “anak domba” yang pasrah. Ia memiliki militer kuat, rakyat yang relatif bersatu, serta dukungan dari banyak negara Amerika Latin yang menolak kebijakan AS. Di luar itu, Venezuela juga memiliki hubungan politik, militer, dan ekonomi dengan kekuatan besar dunia. Semua faktor ini membuat Trump harus berpikir berulang kali sebelum melakukan kebodohan politik dengan menginvasi negara berdaulat berdasarkan alasan-alasan yang rapuh, menggelikan, dan memalukan.
Sumber opini: Al-Alam
Sumber gambar: The War Zone



