Dalam konferensi pers di Teheran pada Minggu, 30 November 2025, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, menegaskan kembali bahwa program nuklir negaranya sepenuhnya berada dalam koridor damai dan dijamin oleh Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT). Ia mengatakan bahwa kekhawatiran internasional terhadap program nuklir Iran “tidak memiliki dasar objektif” dan berasal dari pendekatan politis yang telah mengubah isu teknis menjadi sengketa internasional. Menurutnya, solusi untuk menghindarkan isu nuklir dari ketegangan adalah dengan menghormati hak Iran tanpa campur tangan atau persyaratan tambahan.
Baghaei menuduh troika Eropa—Jerman, Prancis, dan Inggris—telah meninggalkan komitmen mereka di bawah tekanan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa Iran tetap membuka ruang dialog, namun menganggap pihak Eropa tidak menunjukkan kesiapan nyata untuk kembali ke jalur perundingan. Ia menolak gagasan bahwa proses diplomatik telah menemui jalan buntu, dengan mengatakan bahwa stagnasi justru disebabkan langkah Eropa dan Amerika yang mengajukan rancangan resolusi serta tuntutan yang tidak memiliki dasar hukum maupun teknis.
Dalam bagian lain, Baghaei melancarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat yang ia sebut sebagai “ancaman terbesar bagi keamanan internasional.” Ia menyinggung ancaman Washington terhadap sejumlah negara di Amerika Latin, termasuk Venezuela dan Kuba, serta tindakan yang membatasi hak perjalanan warga dari 20 negara, termasuk Iran. Menurutnya, kebijakan itu menunjukkan pola diskriminasi struktural di dalam sistem pemerintahan AS, dan ia menegaskan bahwa pemerintah Iran berkewajiban membela hak-hak warganya di luar negeri.
Ia juga merujuk pada pernyataan mantan pejabat intelijen AS yang mengungkap keterlibatan Amerika dalam munculnya kelompok ekstremis di kawasan, dengan mengatakan bahwa hal tersebut “bukan rahasia baru,” karena sejumlah pejabat AS sebelumnya telah mengakui peran Washington dalam dinamika yang memicu kekacauan regional.
Mengenai hubungan dengan negara-negara Eropa, Baghaei menjelaskan bahwa komunikasi diplomatik yang berlangsung akhir-akhir ini tidak berarti dimulainya jalur negosiasi baru, melainkan bagian dari hubungan rutin yang tetap berlanjut. Ia menyebut percakapan telepon dengan pejabat tingkat tinggi Uni Eropa sebagai kelanjutan dari pola komunikasi yang sudah berjalan lama.
Dalam pembahasan mengenai isu regional, Baghaei menyatakan bahwa stabilitas Suriah merupakan perhatian bersama negara-negara kawasan dan menolak anggapan bahwa Arab Saudi berperan sebagai mediator antara Teheran dan Damaskus. Ia menggambarkan hubungan Iran–Saudi sebagai hubungan yang terus berkembang, sembari menegaskan dukungan Iran terhadap “hak alami Lebanon untuk mempertahankan diri” di tengah serangan berulang dari Israel. Ia menyebut tuduhan mengenai campur tangan Iran dalam urusan Lebanon sebagai “tidak relevan,” dan menegaskan bahwa urusan politik internal Lebanon adalah ranah bangsa itu sendiri.
Menanggapi pertanyaan terkait kunjungan para pejabat Turki dan Saudi ke Teheran, Baghaei mengatakan bahwa tidak ada pesan ancaman yang disampaikan dalam pertemuan tersebut. Menurutnya, diskusi lebih banyak berfokus pada isu bilateral dan perkembangan kawasan, termasuk kekhawatiran bersama mengenai eskalasi yang dipicu Israel. Ia menambahkan bahwa semakin banyak negara di kawasan yang memandang Israel sebagai ancaman nyata terhadap keamanan regional.
Ia juga menanggapi pernyataan tiga negara Eropa mengenai kesiapan mereka untuk kembali bernegosiasi dengan Iran, dan menyebutnya sebagai “sekadar pernyataan publik yang tidak mencerminkan keseriusan.” Menurutnya, posisi Iran jelas: negosiasi hanya bermakna jika seluruh pihak menghormati hak dan kekhawatiran satu sama lain.
Dalam sesi tanya jawab, Baghaei mengomentari kasus warga Iran Mahdieh Esfandiari yang ditahan di Prancis. Ia mengatakan bahwa Esfandiari kini telah dibebaskan secara bersyarat dan dalam kondisi baik, dan Teheran berharap proses hukum yang tersisa dapat membuka jalan bagi pembebasan penuh dan kepulangannya ke Iran.
Mengenai kunjungan Gubernur Bank Sentral Iran ke Afghanistan, Baghaei menjelaskan bahwa kunjungan itu bertujuan memperkuat kerja sama ekonomi, termasuk pembentukan pasar perbatasan dan penyederhanaan prosedur bea cukai. Ia menyebut hubungan kedua negara sebagai hubungan yang memiliki signifikansi ekonomi dan keamanan.
Baghaei juga menyinggung artikel yang memperingatkan kemungkinan runtuhnya rezim nonproliferasi global, dengan mengatakan bahwa tindakan Amerika Serikat sendirilah yang menjadi ancaman utama terhadap sistem tersebut. Ia merujuk pada rencana AS melanjutkan uji coba nuklir, keberpihakan Washington terhadap Israel, serta serangan terhadap fasilitas nuklir Iran yang dinilainya sebagai tindakan ilegal yang merusak stabilitas global.
Dalam komentar mengenai kerja sama keamanan Iran–Irak terkait serangan terhadap ladang gas di wilayah perbatasan, Baghaei mengatakan bahwa Teheran telah menyampaikan keprihatinannya kepada Baghdad dan siap bekerja sama untuk memastikan keamanan kawasan. Ia menyebut bahwa “pihak-pihak tertentu” berusaha memanfaatkan insiden tersebut untuk memicu ketidakstabilan, dan memperingatkan agar tidak mengabaikan kemungkinan keterlibatan Israel.
Di akhir konferensi pers, Baghaei menyatakan bahwa implementasi perjanjian kerja sama jangka panjang Iran–Tiongkok berjalan dengan baik dan tetap berada di jalur positif. Ia menambahkan bahwa semua fasilitas nuklir Iran yang diawasi Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah berada di bawah pemantauan badan tersebut, dan menilai bahwa IAEA maupun Dewan Keamanan belum mengambil tindakan yang semestinya terhadap “agresi” AS dan Israel terhadap fasilitas Iran. Ia menegaskan bahwa kebocoran material radioaktif yang dipicu serangan tersebut menciptakan kondisi yang tidak memungkinkan dilakukannya inspeksi dan bahwa tidak ada preseden dalam sistem internasional untuk menangani situasi seperti itu.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Rudaw


