Skip to main content

Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Abdollahi, menegaskan bahwa satuan yang ia pimpin bertugas memusatkan perhatian pada perang serta melakukan kajian strategis dan operasional dalam situasi kritis. Dalam pertemuannya dengan anggota Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Majelis Syura Islam, ia menekankan bahwa respons angkatan bersenjata Iran terhadap setiap ancaman akan selalu keras dan membuat penyesalan bagi pihak lawan.

Mayor Jenderal Abdollahi mengatakan bahwa musuh “harus memahami bahwa kami selalu mengawasi, dan bahwa kami berada dalam kondisi siaga penuh.” Ia menambahkan bahwa setiap kekeliruan perhitungan terhadap Republik Islam Iran akan dibalas dengan harga yang “melebihi apa pun yang dicapai musuh.”

Sementara itu, Kepala Staf dan Wakil Koordinator Angkatan Darat Iran, Laksamana Habibollah Sayyari, menegaskan bahwa frigat pertama buatan dalam negeri, Jamaran, merupakan simbol kemandirian industri dan kemajuan militer Iran. Berbicara dalam Kursus Pengetahuan Perang ke-24 di Universitas Ilmu dan Teknologi Dirgantara Shahid Sattari, ia menekankan bahwa semangat kemandirian dalam produksi peralatan militer telah ditegaskan sejak masa Perang Iran–Irak atas arahan Imam Khomeini.

Laksamana Sayyari menyinggung pencapaian Iran dalam merancang dan memproduksi frigat Jamaran, yang menurutnya mencerminkan kemampuan mandiri negara dalam industri pertahanan. Ia juga mengingatkan pernyataan Pemimpin Revolusi Islam dalam upacara kelulusan di Universitas Angkatan Laut Noshahr pada 2009, ketika Angkatan Laut ditekankan sebagai “kekuatan strategis” dalam menjaga keamanan nasional dan mempertahankan wilayah Iran.

Sayyari kemudian menjelaskan bahwa Otoritas Pendidikan Perang didirikan atas prakarsa syahid Letnan Jenderal Sayyad Shirazi dan disetujui oleh Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata. Program ini menggabungkan pembelajaran teori dan praktik, di mana para peserta dikirim ke wilayah operasi semasa era Pembelaan Suci untuk mempelajari langsung operasi serta pengorbanan para pejuang.

Dalam kursus tersebut, para peserta mempelajari peristiwa-peristiwa penting di Iran barat dan selatan serta operasi seperti Fath al-Mubin, Beit al-Maqdis, Tariq al-Quds, Marwarid, dan lainnya, termasuk tokoh dan unit yang terlibat pada masa itu. Sayyari menegaskan bahwa program pendidikan itu bertujuan mewariskan nilai-nilai dan budaya Pembelaan Suci kepada generasi baru, serta menekankan pentingnya menyerap pengalaman para pengajar dan veteran.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Pars Today