Skip to main content

Surat kabar Israel, Haaretz, pada Selasa, 5 Mei 2026, mengutip pernyataan sejumlah perwira senior militer Israel yang bertugas di Lebanon Selatan. Mereka menyatakan bahwa Hizbullah telah membangun kembali kemampuannya dan tidak ragu untuk bertempur meskipun dalam kondisi gencatan senjata. Para perwira tersebut menilai bahwa ancaman dari Hizbullah saat ini jauh lebih realistis dibandingkan dengan masa gencatan senjata sebelumnya.

Seorang kolonel yang memimpin Brigade ke-226 mengungkapkan bahwa meskipun identitas musuh tetap sama, keberanian yang ditunjukkan pejuang Hizbullah saat ini sangat berbeda. Ia melaporkan terjadinya berbagai bentrokan langsung di dalam desa-desa, di mana Hizbullah berusaha mendekat dan menyerang pasukan Israel secara frontal. Militer Israel menemukan sistem militer yang beroperasi penuh, mulai dari pos pengamatan, kelompok penyerang, hingga penggunaan bahan peledak dan rudal anti-tank yang terorganisir dengan pola baru.

Koresponden Haaretz, Amos Harel, menambahkan bahwa kemampuan Hizbullah dalam menggunakan senjata taktis dan menimbulkan korban jiwa sangat membebani institusi militer serta menciptakan kepanikan bagi penduduk di wilayah Utara pendudukan. Dalam diskusi dengan Kolonel Michal Milstein, disebutkan bahwa Hizbullah merasa aturan main telah berubah sehingga mereka dapat bergerak lebih bebas dalam memanfaatkan situasi saat ini.

Sebagai bentuk respons nyata di lapangan, pada Selasa tersebut, Hizbullah menargetkan kumpulan tentara dan kendaraan militer Israel yang mencoba merangsek maju di area Wadi al-Raj, pinggiran kota Deir Siryan, Lebanon Selatan. Operasi militer ini ditegaskan oleh Perlawanan Islam di Lebanon sebagai balasan alami atas rentetan pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan oleh pendudukan Israel sejak diberlakukannya kesepakatan pada tengah malam tanggal 16-17 April lalu.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: MTV Lebanon