Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, mengatakan bahwa sebagian besar rudal pencegat Israel telah habis digunakan, sementara sebagian lainnya mengalami kerusakan parah selama Perang Dua Belas Hari.
Ali Larijani menjelaskan bahwa sekitar 25 persen stok rudal pencegat Israel berasal dari Amerika Serikat, dan proses penggantiannya diperkirakan memakan waktu sekitar satu setengah tahun. Ia menegaskan bahwa kondisi ini membuat Israel sangat bergantung pada dukungan udara dan sistem pengisian bahan bakar milik Amerika.
Ali Larijani menyoroti bahwa keberadaan dan bantuan Amerika Serikat dalam sistem pertahanan Israel memainkan peran penting. Menurutnya, tanpa dukungan tersebut, serangan Iran terhadap Israel akan “jauh lebih dahsyat.”
Ali Larijani menegaskan bahwa tuntutan untuk mengurangi jangkauan rudal pada dasarnya merupakan “tuntutan untuk menyerah dan menghapus keamanan nasional.” Ia menambahkan, keteguhan dan kemampuan rudal merupakan bentuk perlindungan terhadap kepentingan nasional dan keamanan publik.
Ali Larijani juga menjelaskan bahwa keputusan Iran untuk tidak menghadiri KTT Sharm el-Sheikh disebabkan karena pertemuan itu “tidak memenuhi standar yang layak bagi Iran Islam,” seraya menilai bahwa “tingkat pertemuan di Sharm el-Sheikh rendah, dan Iran tidak pantas hadir di sana.”
Dalam konteks lain, Ali Larijani mengatakan bahwa mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump “memandang bangsa Arab hanya sebagai sumber uang, sementara dirinya tidak lebih dari seorang pedagang.”
Mengenai situasi di Palestina, Ali Larijani menilai bahwa klaim mengenai “penghapusan Hamas” bertentangan dengan kenyataan di lapangan serta kesepakatan pertukaran tahanan. Ia menegaskan bahwa gerakan itu masih ada, dan generasi muda Palestina kini menunjukkan dukungan yang lebih besar terhadap perlawanan dan Hamas dibanding sebelumnya.
Sumber berita: Al-Manar
Sumber gambar: Rudaw Media Network


