Selama puluhan tahun, Laut Merah dianggap sebagai jalur pelayaran yang aman dan mudah diprediksi oleh angkatan laut dunia. Namun, antara tahun 2023 hingga 2025, anggapan tersebut berubah total. Yaman, yang selama ini hanya dikenal karena krisis kemanusiaan dan posisi geopolitiknya yang dianggap pinggiran, tiba-tiba muncul sebagai pemain kunci yang sangat berpengaruh di perairan regional. Melalui kampanye militer lautnya, Angkatan Bersenjata Yaman (Sanaa) secara tegas mengejar dua misi utama: mendesak gencatan senjata di Gaza dan menghentikan blokade di wilayah tersebut. Dampaknya ternyata luar biasa; Yaman berhasil mengguncang tatanan lama tentang siapa yang sebenarnya berkuasa di jalur maritim strategis dan membuktikan bahwa mereka mampu menulis ulang aturan perdagangan internasional.
Kekuatan Yaman berpusat pada Selat Bab al-Mandab, sebuah jalur sempit yang menjadi urat nadi bagi 12 persen pasokan minyak dunia dan sepertiga perdagangan peti kemas global. Aksi Yaman di Laut Merah dan Teluk Aden ini membuktikan sesuatu yang selama ini diabaikan para ahli: untuk menguasai jalur penting (chokepoint), sebuah negara tidak lagi butuh kapal induk raksasa. Dengan modal ketepatan serangan, kegigihan, dan taktik yang sulit ditebak, Yaman mampu menciptakan kerugian besar bagi sistem perdagangan dunia. Melalui teknologi yang relatif sederhana namun efektif, mereka berhasil melumpuhkan jalur pelayaran yang awalnya hanya menargetkan kapal terkait Israel, namun kemudian meluas hingga ke kapal militer Amerika Serikat dan Inggris.
Skala gangguan di sepanjang Laut Merah ini sangat masif. Lembaga pemantau maritim Inggris mencatat bahwa insiden keamanan di laut melonjak hingga lima kali lipat dari biasanya. Sepanjang Oktober 2023 hingga April 2024, tercatat 164 peluncuran rudal dan 265 serangan drone yang mengenai setidaknya 79 kapal di perairan tersebut. Hingga pertengahan 2025, serangan ini memaksa perusahaan pelayaran raksasa untuk mengubah rute mereka. Lebih dari separuh kapal pembawa barang dari Asia ke Eropa terpaksa memutar jauh melewati Tanjung Harapan di Afrika. Pengalihan ini menambah jarak tempuh hingga 7.400 kilometer, membuat biaya asuransi kapal melonjak tajam, dan meningkatkan harga barang-barang di pasar global.
Secara sosiologi politik, pakar seperti Dr. Abdulmalik M. Eissa dari Universitas Sanaa menilai hal ini sebagai perubahan besar. Kekuatan di laut kini tidak lagi hanya ditentukan oleh senjata besar, tetapi oleh kemampuan mengganggu navigasi dan memanfaatkan informasi. Yaman sukses menggabungkan serangan fisik dengan taktik cerdas seperti gangguan siber dan pelacakan kapal melalui celah sistem GPS. Hasilnya, kapal yang melintasi Terusan Suez merosot drastis dari sekitar 2.000 kapal menjadi hanya sekitar 800-an saja dalam setahun. Hal ini menunjukkan bahwa kecanggihan armada laut konvensional kini bisa dibuat tidak berdaya oleh intelijen dan strategi di darat.
Meskipun Amerika Serikat terus melancarkan serangan udara besar-besaran untuk menghentikan mereka, sekitar 75 persen kekuatan rudal dan drone Yaman nyatanya tetap utuh. Ketidakmampuan kekuatan militer besar untuk menghentikan aksi Yaman akhirnya memaksa Washington menerima kesepakatan gencatan senjata pada Mei 2025 melalui bantuan mediasi Oman. Meski Yaman sedang mengalami krisis pangan yang berat di dalam negeri, banyak warga di sana yang tetap mendukung langkah ini sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina. Yaman mungkin tidak memiliki kendali penuh atas seluruh wilayah perairan, namun mereka telah memegang “veto strategis” yang memaksa negara-negara besar untuk bernegosiasi. Menjelang tahun 2026, apa yang dilakukan Yaman di Laut Merah bukan lagi dianggap sebagai kejadian biasa, melainkan gambaran masa depan di mana aturan perdagangan dunia bisa diubah melalui kejelasan visi dan pemanfaatan kekuatan asimetris.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Tehran Times



