Skip to main content

Anggota Parlemen dari blok Hizbullah, Rami Abu Hamdan, memberikan tanggapan keras atas pembantaian yang dilakukan oleh pasukan pendudukan Israel pada Jumat malam di kota Riyaq, Bednayel, Qasr Naba, dan Sahl Tamnin, wilayah Bekaa, Lebanon. Dalam pernyataan resminya pada Sabtu, 21 Februari 2026, Abu Hamdan menegaskan bahwa darah rakyat Lebanon bukanlah komoditas murah yang bisa terus dikorbankan. Ia menuntut otoritas pemerintah Lebanon untuk melakukan perubahan radikal dalam cara mereka mempertahankan tanah air, seraya menekankan bahwa musuh hanya memahami bahasa kekuatan. Abu Hamdan menyatakan bahwa kecaman semata sudah tidak berguna dan mendesak pemerintah untuk berhenti bersikap seolah-olah serangan Israel adalah hal biasa. Ia mengusulkan agar pemerintah membekukan pertemuan komite mekanisme gencatan senjata sebagai bentuk protes atas serangan yang terus berulang sebelum musuh benar-benar menghentikan agresinya.

Sejalan dengan kecaman tersebut, Presiden Lebanon Joseph Aoun juga mengutuk keras serangan udara dan laut yang menargetkan wilayah Sidon dan Lembah Bekaa. Presiden Aoun menilai bahwa kelanjutan serangan ini merupakan tindakan agresi terang-terangan yang bertujuan untuk menggagalkan upaya diplomatik yang tengah dibangun Lebanon bersama negara-negara sahabat, termasuk Amerika Serikat, guna menciptakan stabilitas. Menurutnya, serangan tersebut adalah pelanggaran berat terhadap kedaulatan Lebanon dan bukti pengabaian Israel terhadap resolusi internasional, khususnya Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701. Presiden Aoun mendesak negara-negara sponsor stabilitas kawasan untuk segera memikul tanggung jawab guna menghentikan agresi ini demi menjaga integritas wilayah Lebanon dari eskalasi yang lebih luas.

Kecaman diplomatik ini muncul setelah data resmi dari Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi bahwa 10 orang tewas dan 24 lainnya luka-luka, termasuk tiga anak-anak, dalam rangkaian serangan Jumat malam tersebut. Agresi militer Israel kali ini melibatkan kombinasi jet tempur dan rudal dari kapal perang yang menyasar pemukiman warga di dataran Tamnin dan sekitarnya. Sebelumnya, serangan pesawat tanpa awak juga menghantam kamp pengungsi Ain al-Hilweh di Sidon yang menewaskan dua orang. Rangkaian aksi militer ini terjadi di tengah berlakunya perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani pada 27 November 2024, namun Israel terus melakukan pelanggaran sistematis yang mengancam keselamatan warga sipil dan merusak kedaulatan Lebanon secara berulang.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: BBC