Komandan Komite Pencarian Orang Hilang di Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Seyyed Mohammad Baqerzadeh, mengusulkan pembentukan komite internasional untuk mencari sekitar 10.000 syuhada yang hilang di Jalur Gaza.
Baqerzadeh menyampaikan usulan tersebut dalam konferensi tripartit yang melibatkan Iran, Irak, dan Komite Internasional Palang Merah, yang bertujuan menentukan nasib para syuhada yang hilang serta memulangkan jenazah mereka kepada keluarga masing-masing. Ia menekankan pentingnya peran Palang Merah Internasional dalam menindaklanjuti persoalan kemanusiaan tersebut.
Dalam kesempatan itu, Baqerzadeh juga merekomendasikan agar dilakukan upaya pemulangan jenazah pemimpin Islam yang gugur, Yahya Sinwar, kepada keluarganya di Gaza, sebagai bentuk penghormatan dan pemulihan martabat para syuhada.
Jalur Gaza selama bertahun-tahun menjadi saksi pembantaian berulang oleh pendudukan Israel, yang telah menewaskan ribuan warga sipil serta meninggalkan banyak korban hilang, termasuk perempuan dan anak-anak. Hingga kini, nasib sebagian besar dari mereka masih belum diketahui.
Meskipun Palang Merah Internasional memainkan peran penting dalam menelusuri orang hilang dan memulangkan jenazah, banyaknya syuhada yang belum teridentifikasi menimbulkan tantangan besar bagi lembaga-lembaga kemanusiaan.
Dalam konteks ini, Iran mengajukan pembentukan komite internasional untuk mencari para syuhada di Gaza dengan tujuan mendokumentasikan nasib mereka dan memulangkan jenazah kepada keluarga masing-masing — sebuah langkah yang dinilai dapat meringankan penderitaan kemanusiaan yang berkepanjangan.
Sementara itu, lembaga-lembaga yang memantau urusan tahanan Palestina melaporkan bahwa jumlah tahanan dan warga yang ditahan di penjara-penjara pendudukan telah melampaui 9.250 orang pada awal November. Sebagian besar dari mereka adalah tahanan administratif, tanpa dakwaan atau pengadilan, belum termasuk mereka yang ditahan di kamp-kamp militer.
Menurut laporan situs Palestine Today, jumlah tahanan dengan vonis mencapai 1.242 orang, sementara jumlah tahanan perempuan mencapai 49 orang, termasuk satu dari Jalur Gaza. Jumlah tahanan anak meningkat menjadi 350 orang, yang ditahan di penjara Ofer dan Megiddo dalam kondisi yang memicu keprihatinan lembaga-lembaga hak asasi manusia.
Data juga menunjukkan lonjakan besar dalam jumlah tahanan administratif yang kini mencapai 3.368 orang, ditahan tanpa dakwaan berdasarkan apa yang disebut “berkas rahasia.”
Selain itu, sekitar 1.205 orang diklasifikasikan sebagai “kombatan ilegal,” sebuah kategori hukum yang digunakan oleh pendudukan dan mencakup pula tahanan Arab dari Lebanon serta Suriah.
Peningkatan tajam jumlah tahanan dan warga yang ditahan menunjukkan bahwa kebijakan penahanan kini menjadi alat utama pendudukan dalam mengelola realitas Palestina, di tengah merosotnya jaminan hukum dan meluasnya penargetan terhadap warga sipil.
Seiring menumpuknya pelanggaran di dalam dan di luar penjara, kebutuhan akan akuntabilitas internasional semakin mendesak — akuntabilitas yang diharapkan dapat mengakhiri praktik tersebut dan mengembalikan martabat manusia sebagai prinsip yang tidak dapat diganggu gugat.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Middle East Eye



