Perlawanan Islam di Lebanon (Hizbullah) mengumumkan rangkaian operasi militer besar-besaran pada Senin, 13 April 2026, yang menargetkan berbagai pangkalan, ruang operasi, dan pusat konsentrasi tentara pendudukan Israel. Langkah ini diambil sebagai respons atas pelanggaran terus-menerus terhadap kesepakatan gencatan senjata oleh pihak musuh serta serangan berulang terhadap desa-desa di Lebanon Selatan. Hizbullah menegaskan bahwa meskipun mereka awalnya mematuhi kesepakatan, kebrutalan musuh memaksa mereka untuk melancarkan serangan udara terkonsentrasi menggunakan skuadron helikopter serbu dan drone terhadap fasilitas vital militer lawan.
Sasaran utama dalam serangan udara ini mencakup ruang tidur tentara di barak Yiftah dan pemukiman Kiryat Shmona, posisi militer di pangkalan Beit Hillel, serta ruang kontrol kebakaran dan tenda militer di pos terdepan Kfar Giladi. Selain itu, markas komando di barak Kfar Giladi dan pemukiman Margaliot juga menjadi target penghancuran. Di darat, unit roket perlawanan meluncurkan gelombang serangan salvo terhadap kendaraan dan personel musuh di area Aqaba, kota Ain Ebel, serta menghujani pemukiman Metula, Doviv, dan barak Avivim dengan rudal.
Di wilayah pesisir dan perbatasan selatan, drone tempur Hizbullah menyasar pangkalan Ami’ad di utara Danau Tiberias, serta barak Zar’it dan Liman di utara Nahariya. Serangan juga diarahkan ke lokasi pengerahan tentara di kota Naqoura, situs Ras Naqoura, dan situs Balat yang baru didirikan, termasuk bukit Al-Awida di Adaysah yang menyebabkan kebakaran besar. Hizbullah menyatakan secara tegas bahwa seluruh operasi ini akan terus berlanjut hingga agresi Amerika-Israel terhadap wilayah dan rakyat Lebanon dihentikan sepenuhnya.
Eskalasi militer ini terjadi di tengah ketidakpastian diplomatik setelah Amerika Serikat dan Israel dianggap menghindar dari komitmen gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan melalui mediasi Pakistan. Meskipun Teheran dan Islamabad menegaskan bahwa kesepakatan tersebut mencakup Lebanon dan seluruh front perlawanan, Israel tetap melanjutkan pembantaian warga sipil di berbagai wilayah. Situasi ini semakin rumit dengan adanya laporan mengenai rencana pertemuan persiapan negosiasi langsung antara Lebanon dan Israel yang dijadwalkan pada Selasa pukul 18.00 waktu Beirut. Pertemuan tersebut dilaporkan mengalami penundaan atas permintaan Amerika Serikat untuk memfasilitasi kehadiran Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem secara tegas memperbarui penolakan partai terhadap negosiasi dengan entitas penjajah. Beliau menyebut langkah tersebut sebagai tindakan yang “absurd” dan merupakan konsesi gratis yang diberikan oleh otoritas Lebanon kepada musuh. Sikap keras ini didukung oleh aksi protes warga di depan markas pemerintahan di Beirut selama beberapa hari terakhir, yang menolak jalur negosiasi di tengah agresi yang masih berlangsung. Lebanon dikabarkan hanya akan mengajukan satu agenda tunggal dalam meja perundingan, yaitu “gencatan senjata”, dengan ancaman tidak akan melanjutkan putaran negosiasi apa pun jika permintaan tersebut ditolak oleh pihak Israel.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Jerusalem Post



