Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei, selaku Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam dan Republik Islam Iran, merilis pernyataan resmi pada hari Kamis untuk memperingati 40 hari syahidnya Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Dalam pidatonya, beliau menyoroti perkembangan yang disebutnya sebagai “perang yang dipaksakan” dan menekankan urgensi bagi rakyat Iran untuk terus mempertahankan kehadiran mereka di berbagai medan, sebagaimana yang telah dilakukan selama 40 hari terakhir. Beliau menegaskan dengan keyakinan penuh bahwa pada tahap “Pertahanan Suci Ketiga” ini, rakyat adalah pemenang sejati di medan pertempuran, meskipun bangsa harus melewati salah satu tragedi terberat dan kejahatan terbesar dalam sejarahnya.
Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei mengenang syahidnya Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sebagai pengorbanan tragis dari seorang pemimpin besar, ayah bangsa Iran, dan pemimpin umat Islam yang kini berada di kedekatan ilahi bersama para syuhada dan orang-orang saleh. Beliau menambahkan bahwa para pengikut garis Imam Khomeini dan Imam Khamenei tetap teguh berdiri di jalan-jalan dan parit-parit pertahanan selama 40 hari malam tanpa henti. Menurutnya, rakyat Iran telah berhasil mengubah duka atas kehilangan “Imam yang syahid” menjadi momentum kekuatan dan ketahanan, serta mengubah serangan brutal musuh menjadi sebuah epik kepahlawanan yang memukau dunia.
Dalam pernyataannya, Pemimpin Revolusi menunjukkan bahwa musuh yang bersenjata lengkap kini berada dalam kondisi tak berdaya dan terheran-heran menghadapi keteguhan Iran. Beliau menilai bahwa kebodohan kaum arogan telah menjadikan bulan Esfand 1404 sebagai awal dari babak baru kebangkitan kekuatan Iran dan Revolusi, di mana panji Iran kini berkibar tidak hanya secara geografis, tetapi juga di kedalaman hati para pencari kebenaran di seluruh dunia. Beliau menekankan bahwa segala pencapaian ini merupakan hasil dari pemeliharaan ilahi dan orientasi spiritual yang kuat.
Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei juga memberikan pesan khusus kepada negara-negara tetangga di kawasan Teluk dengan menyebut bahwa mereka sedang menyaksikan sebuah “mukjizat”. Beliau menyerukan agar negara-negara tersebut melihat realitas dengan saksama, memilih posisi yang benar, dan waspada terhadap janji-janji palsu setan. Teheran ditegaskan masih menunggu tanggapan yang tepat dari negara-negara tetangga untuk menunjukkan persaudaraan dan iktikad baik, yang hanya dapat dicapai dengan meninggalkan kekuatan arogan yang selalu mencari kesempatan untuk mengeksploitasi mereka.
Menutup pernyataannya, beliau menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan para penjahat yang menyerang negara melenggang begitu saja tanpa tanggung jawab. Iran secara tegas akan menuntut kompensasi atas segala kerugian yang menimpa negara maupun atas darah para syuhada dan veteran. Terkait isu strategis kawasan, beliau menekankan perlunya pengembangan manajemen Selat Hormuz dan menegaskan kembali bahwa meskipun Iran tidak pernah mencari perang, negara tersebut tidak akan pernah melepaskan hak-hak sahnya sedikit pun, dengan memandang seluruh front perlawanan sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Anadolu Agency


