Skip to main content

Pasukan pendudukan Israel kembali menggempur sejumlah desa di Tepi Barat pada Sabtu, 9 November 2025, sementara kelompok pemukim Yahudi melakukan serangan terhadap rumah-rumah warga dan menyerang jurnalis di Lembah Yordan bagian utara.

Menurut kantor berita Palestina Wafa, puluhan warga di Desa Salem, sebelah timur Nablus, mengalami sesak napas akibat gas beracun yang ditembakkan oleh pasukan pendudukan Israel saat waktu salat Isya di Masjid Izz al-Din al-Qassam. Tentara juga mendirikan pos pemeriksaan militer di pintu masuk desa dan memeriksa kendaraan warga.

Di wilayah lain, sekelompok pemukim menyerbu sebuah rumah di kawasan Quneitra, sebelah barat Beit Furik, sementara di Jenin, pemukim menyerang lahan pertanian dan rumah warga di Desa Raba, tenggara kota tersebut, di bawah perlindungan tentara Israel yang juga melakukan penggerebekan bersamaan.

Saksi mata melaporkan bahwa pasukan Israel juga menyerbu area sekitar sekolah di kota Silat al-Harithiya, barat Jenin, dan mengejar sejumlah anak-anak yang sedang bermain tanpa melakukan penangkapan.

Sementara itu, pasukan pendudukan menahan beberapa pemuda di pintu masuk Kamp Al-Fawwar, selatan Hebron, serta menyebar di kawasan Bundaran Al-Mukhtar di pusat kota. Di Bethlehem, pos pemeriksaan militer didirikan di pintu timur kota Al-Khader, sedangkan pemukim menyerang kawasan Tel Ma’in di timur Yatta dan merusak properti warga.

Ketegangan juga meningkat di Lembah Yordan bagian utara. Sejumlah pemukim bersenjata menyerbu komunitas Palestina di Makhoul dan Samra serta berpatroli di sekitar permukiman, menimbulkan ketakutan di kalangan perempuan dan anak-anak. Kawasan ini telah lama menjadi sasaran penggerebekan, perampasan tanah, dan larangan bagi warga untuk menggembalakan ternak.

Dalam konteks lain, Serikat Jurnalis Palestina mengecam keras serangan puluhan pemukim bersenjata terhadap para jurnalis di Kota Beita, selatan Nablus, menyebutnya sebagai “kejahatan perang yang ditujukan untuk membunuh.” Serangan tersebut menyebabkan lima jurnalis mengalami luka: Raneen Sawafteh, Muhammad Al-Atrash, Luay Saeed, Nasser Ishtayeh, dan Nael Buital. Serikat menyatakan sedang berkoordinasi dengan Federasi Jurnalis Internasional untuk menuntut perlindungan global bagi jurnalis Palestina dan menuntut para pelaku di pengadilan internasional.

Sementara itu, Brigade al-Qassam, sayap militer Hamas, menegaskan bahwa pasukan pendudukan Israel bertanggung jawab penuh atas bentrokan yang terjadi di Rafah. Dalam pernyataannya, Al-Qassam menyebut para pejuangnya hanya mempertahankan diri di wilayah yang dikendalikan musuh dan menegaskan bahwa “penyerahan diri bukanlah bagian dari kamus perlawanan.”

Brigade itu juga menyerukan para mediator internasional untuk segera bertindak mencegah Israel menggunakan dalih palsu guna melanggar gencatan senjata dan menyerang warga sipil. Al-Qassam menegaskan bahwa proses pengambilan jenazah yang dilakukan dalam fase sebelumnya berlangsung dalam kondisi yang sangat sulit, dan untuk menuntaskan tahap berikutnya dibutuhkan lebih banyak tim teknis serta peralatan khusus.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Jerusalem Post