Jalur Gaza mengalami kerusakan parah pada sektor layanan publik dan infrastruktur akibat serangan terhadap fasilitas serta kantor pemerintah selama agresi terbaru. Serangan itu menewaskan empat wali kota, menghancurkan kendaraan dan peralatan kerja, serta merusak jaringan air, pembuangan limbah, dan listrik. Akibatnya, warga kini menghadapi krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Setelah gencatan senjata, pemerintah kota di seluruh Jalur Gaza menghadapi krisis serius akibat kekurangan peralatan dan sumber daya. Ada kebutuhan mendesak untuk membuka kembali jalan, membersihkan puing-puing, dan memulihkan layanan dasar agar warga dapat kembali beraktivitas dengan aman.
Selama dua tahun terakhir, pengeboman telah menghancurkan sebagian besar peralatan dan mesin milik pemerintah kota. Kondisi ini membuat penanganan krisis nyaris mustahil dan menyebabkan layanan dasar berhenti hampir sepenuhnya. Meski sumber daya sangat terbatas, tim pemerintah kota tetap berusaha menyediakan air, mengumpulkan sampah, dan membersihkan jalan. Upaya memenuhi kebutuhan mendesak menjadi satu-satunya cara untuk mengurangi penderitaan warga.
Di lingkungan Sheikh Radwan di Kota Gaza, Mahmoud Adwan menceritakan pengalamannya setelah agresi berakhir. “Setelah gencatan senjata, saya pergi ke rumah saya yang hancur total. Saya terkejut melihat tingkat kerusakannya. Jalanan dipenuhi puing dan gundukan tanah. Kawasan itu tampak seperti lorong-lorong sempit di antara rumah-rumah yang runtuh. Tidak ada lagi jalan yang bisa dilalui atau tanda-tanda wilayah yang jelas. Semuanya seperti dilanda gempa bumi besar,” katanya.
Kepada Al-Mayadeen Net, Adwan menuturkan bahwa kerusakan telah meluas ke seluruh infrastruktur. “Sebagian besar sumur air dan jaringan limbah hancur, jalan-jalan rusak berat, dan kehidupan benar-benar terhenti. Tidak ada air bersih atau layanan dasar. Bertahan hidup di sini menjadi perjuangan setiap hari,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pemerintah kota berupaya keras membersihkan jalan dan menyingkirkan puing yang menumpuk, tetapi sumber daya yang tersedia sangat terbatas dibandingkan skala kerusakan. “Peralatan sangat minim, dan para pekerja berada di bawah tekanan luar biasa,” katanya. Ia menyerukan percepatan pengiriman bantuan peralatan agar pemerintah kota dapat memulihkan layanan dasar seperti air, listrik, dan kebersihan jalan, sehingga kehidupan bisa perlahan kembali normal.
Warga lainnya, Majdi Al-Shalfouh, menggambarkan situasi di lingkungan Nasr di pusat Kota Gaza sebagai “tragis.” Ia mengatakan, “Rumah-rumah hancur dan kosong, membahayakan warga karena bisa runtuh kapan saja. Jalan-jalan tertutup ton-ton puing akibat kehancuran rumah dan fasilitas penting.”
Berbicara kepada Al-Mayadeen Net, Al-Shalfouh menjelaskan bahwa transportasi hampir mustahil dilakukan, jaringan air dan limbah hancur, serta sampah menumpuk hingga meningkatkan risiko penyakit. “Saya belum ingin kembali ke rumah sebelum pemerintah kota mampu membersihkan lingkungan dan memulihkan kehidupan di sini. Kondisi sekarang berbahaya bagi kami,” ujarnya.
Menurut Al-Shalfouh, pemerintah kota tetap berusaha membuka jalan, menyediakan air, dan mengumpulkan sampah, meski dengan sumber daya yang sangat terbatas. “Tingkat kerusakan terlalu besar untuk ditangani sendiri, apalagi setelah sebagian besar peralatan kami hancur,” katanya. Ia menekankan pentingnya pengiriman alat berat dan bahan bakar untuk membantu warga kembali ke kehidupan yang mendekati normal serta memulihkan layanan dasar.
Pemerintah Kota Gaza baru-baru ini meluncurkan kampanye untuk membuka kembali jalan dan membersihkan puing bekerja sama dengan sejumlah lembaga, dengan tujuan memfasilitasi kepulangan warga, memulihkan layanan dasar, dan mengurangi penderitaan masyarakat.
Dalam konteks ini, Wali Kota Gaza Yahya al-Sarraj mengatakan seluruh pemerintah kota di Jalur Gaza telah meluncurkan kampanye serupa sejak gencatan senjata. Tujuannya, membuka jalan dan lorong agar warga yang mengungsi dapat kembali serta menghidupkan kembali sisa-sisa kota, meski kehancuran meluas dan pasukan pendudukan menggunakan senjata baru, termasuk kendaraan lapis baja peledak.
Kepada Al-Mayadeen Net, al-Sarraj menjelaskan bahwa agresi telah menghancurkan lebih dari 85 persen peralatan berat dan truk milik pemerintah kota. Kini, pihaknya hanya mengoperasikan satu kendaraan berat untuk membersihkan jalan setelah lebih dari 810 kilometer jaringan jalan, serta sejumlah kantor dan gudang pemerintah kota, hancur total.
Ia menambahkan bahwa pemerintah kota saat ini beroperasi dalam “fase darurat maksimum,” dengan fokus pada empat prioritas utama: penyediaan air, pengumpulan sampah, pengolahan limbah, dan pembukaan jalan yang tertutup. Kondisi ini terjadi di tengah krisis air parah, di mana warga hanya menerima kurang dari seperempat dari kebutuhan air harian mereka. Tumpukan sampah pun menimbulkan ancaman penyebaran penyakit.
Menurut al-Sarraj, tahap rekonstruksi berikutnya meliputi penyediaan tenda dan tempat tinggal sementara, perbaikan pasar, jaringan air dan listrik, serta pembersihan puing. Ia menambahkan bahwa saat ini sangat dibutuhkan suku cadang, mesin, generator, bahan bakar, dan semen untuk mendukung upaya pemulihan. Ia menyerukan pembukaan perlintasan dan pelabuhan untuk memungkinkan masuknya bantuan yang mendesak, sebagai bagian dari rencana tiga tahap: darurat, pemulihan, dan rekonstruksi.
Sementara itu, Wali Kota Khan Yunis Alaa al-Din al-Bata menyebut bahwa sekitar 85 persen wilayahnya hancur selama dua tahun agresi, meninggalkan sekitar 400 ribu ton puing yang harus disingkirkan. Ia menjelaskan bahwa 300 kilometer jaringan air dan 75 persen jaringan limbah rusak, bersama 206 ribu meter jalan dan 296 ribu meter jaringan air. Sebanyak 36 sumur dan tiga reservoir utama juga tidak lagi berfungsi.
Kepada Al-Mayadeen Net, al-Bata mengatakan lebih dari 350 ribu ton sampah kini menumpuk di tempat pembuangan sementara, sementara bahan bakar dan generator listrik alternatif sangat dibutuhkan. Ia menegaskan bahwa sembilan tim lapangan tengah bekerja membersihkan jalan, namun kekurangan peralatan berat.
Al-Bata menyerukan komunitas internasional dan lembaga kemanusiaan untuk segera memberikan bantuan di sektor air, sanitasi, dan kebersihan agar pemerintah kota dapat menyediakan layanan dasar dan mencegah krisis kemanusiaan memburuk.
Di Jalur Gaza bagian tengah, Direktur Pemerintah Kota Deir al-Balah, Tariq Shaheen, menjelaskan bahwa sekitar dua juta ton puing perlu disingkirkan untuk membuka jalan utama, namun hal itu hampir mustahil karena pasukan pendudukan menolak masuknya peralatan berat.
Kepada Al-Mayadeen Net, Shaheen mengatakan ratusan truk dibutuhkan untuk mempercepat pemindahan puing keluar Jalur Gaza. Ia juga menyebut banyaknya benda mencurigakan yang tersebar di rumah dan jalan, membahayakan warga, dan sulit ditangani karena minimnya sumber daya.
Sementara itu, Kepala Jaringan LSM Palestina Amjad Shawa menjelaskan bahwa agresi di Gaza meninggalkan sekitar 55 juta ton reruntuhan yang menghambat operasi bantuan dan penampungan darurat. Kerusakan juga meluas ke lebih dari 90 persen rumah serta 85 persen wilayah Kota Gaza dan kota-kota di utara dan timur Khan Yunis, memaksa sekitar 1,5 juta warga Palestina mengungsi tanpa tempat tinggal layak.
Kepada Al-Mayadeen Net, Shawa menuturkan bahwa penumpukan lebih dari 800 ribu ton puing dan sampah menghambat distribusi bantuan dan meningkatkan risiko wabah penyakit. Sementara itu, jaringan air, limbah, dan listrik hancur total, menciptakan kebutuhan mendesak akan instalasi desalinasi, generator, panel surya, dan tangki air untuk menjaga fasilitas vital tetap berfungsi.
Ia menambahkan bahwa rekonstruksi Jalur Gaza mencakup pembangunan rumah, infrastruktur, dan fasilitas penting, penyediaan tempat tinggal serta kebutuhan sanitasi, dan pemulihan aktivitas ekonomi serta sosial. Biaya yang dibutuhkan diperkirakan mencapai antara 70 hingga 90 miliar dolar AS, dengan proses yang akan memakan waktu bertahun-tahun dan memerlukan kerja sama internasional untuk memastikan masuknya peralatan dan material tanpa hambatan.
Pertahanan Sipil Gaza mencatat sekitar 9.500 orang masih hilang sejak awal perang, dengan akses pencarian terhambat akibat kerusakan besar dan terhentinya layanan dasar, menurut juru bicara Mahmoud Basal.
Kepada Al-Mayadeen Net, Basal mengatakan timnya bekerja siang malam untuk mencari dan mengevakuasi jenazah para syahid, dan sejauh ini telah menemukan lebih dari 150 jenazah. Namun kekurangan alat berat dan derek sangat menghambat pekerjaan mereka. Ia menekankan bahwa memulihkan kehidupan di wilayah terdampak memerlukan upaya besar-besaran.
Basal juga menyebut hampir setengah juta pengungsi telah kembali ke Gaza utara sejak gencatan senjata. Ia menyerukan komunitas internasional serta negara dan lembaga pendukung untuk terus membantu upaya rekonstruksi, pembersihan puing, dan pemulihan layanan dasar bagi penduduk.
Program Pembangunan PBB (UNDP) memperkirakan biaya rekonstruksi Gaza pascaperang mencapai sekitar 70 miliar dolar AS, dengan prioritas utama pengangkatan puing dan penyediaan tempat tinggal di tengah krisis kemanusiaan yang meluas.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera


