Amerika Serikat kembali menyita sebuah kapal tanker minyak Venezuela di lepas pantai negara tersebut, menandai berlanjutnya rangkaian penyitaan kapal yang dilakukan Washington dengan tempo yang kian meningkat. Langkah ini disebut sebagai bagian dari tekanan berkelanjutan Amerika Serikat terhadap Caracas.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro menegaskan kembali sikap negaranya terhadap apa yang ia sebut sebagai serangan Amerika Serikat terhadap kepentingan Venezuela selama 25 pekan terakhir. Ia menyatakan bahwa negaranya tengah menghadapi kampanye agresif berupa terorisme psikologis dan aksi pembajakan terhadap kapal-kapal tanker minyak. Maduro juga menegaskan kesiapan Venezuela untuk menghadapi situasi tersebut, seraya menyebutnya sebagai fase percepatan “revolusi mendalam”.
Kapal tanker yang baru disita ini merupakan yang kedua dalam kurun 24 jam terakhir. Pada Sabtu, Washington juga menyita sebuah kapal tanker pengangkut minyak Venezuela yang berlayar dengan bendera Panama. Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, Kristi Noem, menyatakan bahwa kapal tersebut ditahan oleh Penjaga Pantai AS dengan dukungan Departemen Pertahanan Amerika Serikat.
Noem mengatakan bahwa Washington akan terus memburu apa yang disebutnya sebagai pergerakan ilegal minyak yang dikenai sanksi. Menurut klaim pemerintah AS, hasil penjualan minyak tersebut digunakan untuk membiayai aktivitas yang mereka kategorikan sebagai terorisme terkait narkoba di kawasan tersebut.
Penyitaan terbaru ini merupakan langkah ketiga Washington sepanjang bulan ini, di tengah peningkatan tekanan pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Venezuela. Tekanan tersebut mencakup penerapan embargo minyak menyeluruh terhadap kapal-kapal yang berlayar menuju dan keluar dari Venezuela. Trump sebelumnya juga tidak menutup kemungkinan eskalasi lebih lanjut, termasuk konfrontasi militer, seiring dengan terus meningkatnya kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Karibia.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: New York Times



