Perwakilan Republik Islam Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa menegaskan bahwa Amerika Serikat terus melakukan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip hukum internasional melalui ancaman serangan yang terus-menerus terhadap negara-negara berdaulat dan upaya untuk mengendalikan wilayah asing. Dalam keterangannya pada Selasa, 27 Januari 2026, delegasi Iran tersebut menjelaskan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah secara terbuka dan berulang kali mengancam Iran dengan penggunaan kekuatan serta intervensi militer. Perilaku tersebut dinilai bertentangan dengan Piagam PBB dan merusak fondasi perdamaian serta keamanan internasional. Beliau menekankan bahwa Dewan Keamanan PBB wajib memikul tanggung jawab hukum dan politiknya untuk menyebut pelanggaran Amerika Serikat dengan nama yang sebenarnya, serta mengambil sikap tegas terhadap ancaman yang memengaruhi kedaulatan negara dan stabilitas sistem internasional.
Sejalan dengan pernyataan diplomatik tersebut, seorang pejabat militer senior di Markas Pusat Khatam al-Anbiya dari Garda Revolusi memperingatkan konsekuensi dari eskalasi ancaman dan disinformasi media yang dikeluarkan oleh pejabat militer Amerika Serikat dan Israel. Pejabat tersebut menekankan bahwa setiap ancaman terhadap keamanan nasional Republik Islam Iran sedang dipantau secara ketat sejak tahap paling awal. Keputusan yang tepat akan diambil pada waktu yang sesuai, dengan menempatkan tanggung jawab penuh atas segala konsekuensi yang tidak diinginkan kepada pihak penghasut. Beliau menjelaskan bahwa angkatan bersenjata Iran tidak hanya memantau pergerakan lawan selama fase operasional, tetapi juga mengamati secara cermat indikator ancaman keamanan yang muncul, di mana penilaian lapangan menjadi dasar utama dalam menentukan sifat dan waktu respons yang akan diberikan.
Pejabat militer senior tersebut menunjukkan bahwa spekulasi mengenai pelaksanaan apa yang disebut sebagai “operasi terbatas, cepat, dan bersih” terhadap Iran didasarkan pada penilaian yang salah serta pemahaman yang buruk tentang kemampuan defensif dan ofensif Republik Islam Iran. Beliau menegaskan bahwa skenario apa pun yang mengandalkan elemen kejutan atau berupaya mengendalikan cakupan konflik akan terlepas dari tangan para perencananya sejak tahap pertama. Terkait dengan pembangunan kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan, khususnya pengerahan kapal induk secara besar-besaran, pejabat militer tersebut menekankan bahwa lingkungan maritim di sekitar Iran adalah lingkungan lokal yang sudah sangat dikenal dan berada di bawah kendali angkatan bersenjata Iran. Akumulasi kekuatan dan peralatan yang datang dari luar wilayah dianggap tidak akan menjadi faktor pencegah, melainkan justru meningkatkan kerentanan dan mengubahnya menjadi target yang mudah.
Selama beberapa tahun terakhir, Republik Islam Iran telah berhasil mengandalkan kemampuan angkatan laut lokal, doktrin pertahanan asimetris, serta karakteristik geopolitiknya untuk merumuskan persamaan militer di Teluk Persia dan Laut Oman. Hal ini membuat kekuatan agresor mana pun mustahil dapat menjamin keamanan pasukan serta pangkalan mereka. Mengenai pernyataan intervensionis terkait urusan dalam negeri Iran, pejabat tersebut menekankan bahwa pengalaman masa lalu telah membuktikan kegagalan semua upaya untuk memengaruhi internal Iran atau merusak struktur politiknya, baik melalui tekanan politik dan ekonomi maupun ancaman militer serta operasi psikologis. Beliau menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa Republik Islam Iran tidak akan memulai perang apa pun, namun di sisi lain, tidak akan membiarkan ancaman terhadap keamanan nasionalnya menjadi kenyataan praktis, bahkan pada tahap awal sekalipun. Pihak-pihak yang mendestabilisasi kawasan melalui kebijakan provokatif atau dukungan langsung dan tidak langsung akan dimintai pertanggungjawaban penuh atas segala kemungkinan dampak yang timbul.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Press TV



