Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem dalam sebuah pidato publik menyampaikan pesan solidaritas yang kuat bagi Republik Islam Iran, rakyat, serta jajaran kepemimpinannya pada Selasa, 27 Januari 2026. Dalam pernyataan tersebut, beliau menegaskan bahwa segala bentuk ancaman yang ditargetkan kepada Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Sayyid Ali Khamenei pada hakikatnya merupakan ancaman bagi puluhan juta umat yang meyakini kepemimpinannya. Beliau memberikan peringatan keras bahwa tindakan apa pun yang membahayakan Sayyid Ali Khamenei akan menjadi ancaman langsung terhadap stabilitas kawasan maupun internasional. Pidato tersebut disampaikan dalam sebuah pertemuan publik besar yang diselenggarakan di kompleks Sayyid al-Shuhada. Sheikh Naim Qassem mengawali orasinya dengan menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh umat Muslim atas datangnya bulan Syaban, yang beliau gambarkan sebagai bulan Rasulullah sekaligus pembuka jalan menuju bulan suci Ramadhan yang penuh berkah.
Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem menekankan bahwa Hizbullah meyakini kepemimpinan Pemimpin Besar Sayyid Ali Khamenei sebagai bagian dari landasan iman dan metodologi perjuangan mereka. Beliau menggarisbawahi bahwa ancaman pembunuhan terhadap Sayyid Ali Khamenei, baik yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump maupun pihak lainnya, berarti mengancam jutaan bahkan puluhan juta orang, dan hal tersebut merupakan sesuatu yang sama sekali tidak dapat ditoleransi. Sheikh Naim Qassem menyatakan bahwa tanggung jawab yang bersumber dari iman, keyakinan, dan kewajiban memaksa semua pihak untuk menghadapi ancaman ini, sembari menegaskan bahwa Hizbullah berkomitmen penuh untuk mengambil semua langkah pencegahan yang diperlukan guna melindungi sang pemimpin.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa upaya pembunuhan, jika sampai terjadi, akan menjadi serangan terhadap stabilitas dan situasi keamanan di kawasan dan dunia. Beliau mencatat bahwa ancaman ini juga ditujukan kepada Hizbullah, sehingga organisasi tersebut memiliki otoritas penuh untuk mengambil tindakan apa pun yang dianggap tepat sebagai respons. Sheikh Naim Qassem menunjukkan bahwa pukulan terbesar yang pernah dialami oleh Amerika Serikat dan entitas Israel adalah berdirinya Republik Islam serta keberhasilan Revolusi Islam yang diberkati. Iran dipandang tetap menjadi mercusuar kebebasan yang mampu maju secara ilmiah, sosial, moral, dan budaya, serta menjadi model negara merdeka yang sangat luar biasa. Beliau menambahkan bahwa Iran telah menghadapi agresi selama 12 hari pada tahun lalu, namun melalui persatuan rakyat, solidaritas dengan kepemimpinan, Garda Revolusi, serta pasukan keamanan, mereka berhasil mencapai ketahanan dan kesabaran untuk menggagalkan rencana musuh Amerika Serikat-Israel.
Sheikh Naim Qassem menjelaskan bahwa upaya untuk menggulingkan Iran dari dalam pada periode terakhir dilakukan dengan mengeksploitasi kondisi ekonomi dan sosial, di mana pihak-pihak yang melakukan pembunuhan, penghancuran, dan pembakaran disusupkan ke dalam demonstrasi yang sah. Beliau juga menekankan bahwa argumen Amerika Serikat telah terbongkar karena negara tersebut berusaha menjajah dan mengendalikan dunia, bukan hanya Iran. Iran ditegaskan memiliki hak atas senjata nuklir damai, kekuatan rudal, dan sarana pertahanan diri lainnya, termasuk hak untuk membangun republik yang merdeka. Namun, Amerika Serikat tidak setuju dan tidak ingin hak-hak tersebut terwujud. Narasi kesombongan yang dibangun oleh Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya didasarkan pada ketundukan terhadap kontrol pihak yang kuat dan kriminal, di mana istilah perdamaian dengan kekuatan sebenarnya berarti tirani dan kolonialisme dengan kekuatan.
Mengenai situasi regional, Sheikh Naim Qassem menyatakan bahwa genosida di Jalur Gaza mencerminkan kebrutalan serta kemitraan langsung antara Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Beliau mengklarifikasi bahwa agresi Amerika Serikat-Israel terhadap Lebanon tidak dapat dibenarkan dengan alasan takut akan ancaman atau niat perlawanan, karena pada kenyataannya musuh sudah melakukan agresi langsung yang berkelanjutan. Beliau memperingatkan bahwa perang apa pun terhadap Iran kali ini dapat menghanguskan seluruh kawasan. Iran ditegaskan telah mendukung perjuangan Lebanon selama 43 tahun dalam kerangka legitimasi untuk membebaskan wilayah pendudukan. Sementara itu, Amerika Serikat dan sekutunya mendukung Israel dengan cara memaksa Lebanon melumpuhkan kekuatannya dan menabur benih perselisihan di dalam negeri. Sheikh Naim Qassem menekankan bahwa opsi menyerah berarti kehilangan segalanya tanpa batas, sedangkan opsi pertahanan membuka pintu bagi banyak kemungkinan. Beliau menyampaikan pesan kepada musuh agar tidak mengancam dengan kematian, karena kematian berada di tangan Tuhan, sementara martabat dan kehormatan berada di tangan para pejuang yang tidak akan pernah dilepaskan.
Menutup pidatonya, Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem menyapa rakyat Iran sebagai permata mahkota dan menegaskan bahwa Amerika Serikat serta Israel bekerja dalam satu proyek kolonial tunggal yang bertujuan memukul setiap proyek perlawanan di Lebanon, Jalur Gaza, Suriah, dan Iran. Beliau mengungkapkan bahwa dalam dua bulan terakhir, beberapa pihak telah mengajukan pertanyaan langsung mengenai apakah Hizbullah akan melakukan intervensi jika Amerika Serikat dan Israel berperang melawan Iran. Para mediator tersebut ditugaskan untuk mendapatkan janji agar Hizbullah tidak terlibat. Namun, Sheikh Naim Qassem menegaskan bahwa Hizbullah tidak bersifat netral dan akan menentukan cara bertindak serta rincian teknis lainnya pada waktu yang tepat sesuai dengan kepentingan pertempuran. Beliau menolak pandangan bahwa perlawanan menempatkan Lebanon dalam posisi sulit, justru mereka yang menjual Lebanon kepada hegemoni Amerika Serikat-Israel yang merusak posisi negara. Menunjukkan keteguhan dan membela tanah air melalui kesetiaan kepada darah para syuhada, terutama Sayyid Hassan Nasrallah dan Sayyid al-Hashemi, adalah jalan untuk mengembalikan kedaulatan serta martabat Lebanon.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Press TV



