Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan jawaban yang sangat tegas terhadap pertanyaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai alasan mengapa Iran menolak untuk menyerah meskipun ditekan dengan sanksi ekonomi serta penumpukan kekuatan militer yang masif di Timur Tengah. Araghchi menjawab singkat bahwa keteguhan tersebut berakar pada identitas mereka sebagai orang Iran, sebuah pernyataan yang menekankan bahwa bagi Teheran, kedaulatan dan harga diri nasional tidak dapat ditawar. Hal ini sekaligus merespons keterkejutan utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkopf, yang menyatakan bahwa pihak Gedung Putih merasa heran melihat Iran tidak kunjung tunduk di bawah tekanan meskipun militer Amerika Serikat telah dikerahkan secara luas di kawasan tersebut. Araghchi memperjelas bahwa teknologi nuklir Iran adalah hasil jerih payah ilmuwan domestik yang telah dibayar mahal dengan sanksi selama lebih dari dua dekade, pengorbanan nyawa para ilmuwan, serta konfrontasi militer, sehingga masalah ini telah menjadi masalah kehormatan nasional yang mustahil untuk ditinggalkan.
Meskipun tensi militer meningkat, Araghchi mengumumkan bahwa delegasi Iran dijadwalkan akan bertemu dengan pihak Amerika Serikat pada Kamis, 26 Februari 2026, di Jenewa untuk melanjutkan upaya pencapaian kesepakatan. Menteri Luar Negeri Oman Badr Al-Busaidi turut mengonfirmasi jadwal pertemuan tersebut dan melihat adanya tren positif untuk memfinalisasi perjanjian yang sedang digarap. Araghchi bahkan mengeklaim bahwa draf kesepakatan baru yang sedang disusun saat ini memiliki aspek-aspek yang bisa lebih baik daripada perjanjian nuklir tahun 2015 atau JCPOA. Ia menegaskan bahwa pengayaan uranium tetap merupakan hak sah Iran sebagai anggota Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) untuk tujuan damai, dan bagaimana teknis pelaksanaan hak tersebut merupakan urusan internal kedaulatan Iran yang tidak boleh diintervensi melalui tekanan media.
Di sisi lain, Iran juga menyampaikan peringatan keras bahwa penumpukan militer Amerika Serikat sama sekali tidak akan mengintimidasi mereka. Araghchi menyatakan bahwa jika Amerika Serikat melancarkan serangan, hal tersebut akan dianggap sebagai tindakan agresi, dan Iran memiliki hak penuh untuk melakukan pembelaan diri yang sah. Ia menjelaskan secara terbuka bahwa karena rudal-rudal Iran tidak dirancang untuk menjangkau daratan Amerika Serikat, maka respons balasan Teheran akan difokuskan secara presisi untuk menghancurkan pangkalan militer dan kepentingan strategis Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah. Melalui penegasan ini, Iran mengirimkan pesan bahwa diplomasi tetap merupakan satu-satunya jalan keluar yang rasional, namun mereka tidak akan ragu untuk membalas kekuatan dengan kekuatan jika kedaulatan mereka dilanggar.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Al Jazeera



