Kementerian Kesehatan di Gaza pada Minggu, 23 November 2025, mengonfirmasi bahwa 23 syahid (21 syahid baru dan 2 jasad yang berhasil dievakuasi), serta 83 orang terluka, tiba di rumah sakit-rumah sakit di Jalur Gaza dalam 24 jam terakhir.
Dalam laporan statistik hariannya, kementerian menyebut bahwa sejak diberlakukannya gencatan senjata pada 11 Oktober 2025, tercatat 339 syahid, 871 terluka, dan 574 jasad berhasil ditemukan dari reruntuhan bangunan.
Kementerian menegaskan bahwa masih terdapat sejumlah korban di bawah reruntuhan dan di jalanan, namun tim ambulans dan pertahanan sipil tidak dapat menjangkau mereka karena lokasi masih berada dalam zona operasi militer dan rentan tembakan.
Secara keseluruhan, kementerian mencatat bahwa jumlah korban agresi Israel sejak 7 Oktober 2023 telah meningkat menjadi 69.756 syahid dan 170.946 luka-luka.
Di lapangan, Israel disebut terus melakukan pemboman terarah dan penghancuran bangunan secara sistematis di kawasan utara dan selatan Gaza pada hari yang sama, langkah yang dianggap oleh otoritas Palestina sebagai pelanggaran langsung terhadap perjanjian gencatan senjata.
Pada hari yang sama di Tepi Barat, seorang pemuda Palestina bernama Baraa Khairi Ali Maali (20 tahun) gugur setelah ditembak pasukan pendudukan dan pemukim Israel dalam serangan terhadap desa Deir Jarir, timur Ramallah. Kepala dewan desa, Fathi Hamdan, mengatakan bahwa pemukim bersenjata menyerbu desa dan menyerang warga serta rumah-rumah mereka, sementara pasukan Israel melindungi para pemukim dan menembakkan gas air mata dalam jumlah besar ke arah warga.
Juga pada Minggu, seorang anak perempuan Palestina berusia 9 tahun mengalami luka serius setelah terkena granat kejut yang ditembakkan tentara Israel di dekat kamp pengungsi Nur Shams, Tulkarm. Bulan Sabit Merah Palestina menyebutkan bahwa beberapa warga lainnya mengalami sesak napas akibat gas air mata yang ditembakkan pasukan Israel untuk membubarkan aksi damai warga yang menuntut kembali ke kamp yang telah dikepung dan dihancurkan.
Sumber lokal menyatakan bahwa sejak 21 Januari 2025, tentara Israel memperluas operasi militernya di utara Tepi Barat, dimulai dari kamp Jenin, dilanjutkan ke Tulkarm, dan kemudian Nur Shams, yang mengakibatkan penghancuran ratusan rumah serta pengungsian paksa lebih dari 50.000 warga Palestina. Di wilayah yang hancur, pasukan Israel juga membangun jalur baru dan infrastruktur yang disebut pengamat sebagai bagian dari skema perubahan geografi dan demografi kawasan.
Dalam konteks yang sama, aktivis anti-pemukiman, Uday Ta’imat, mengatakan kepada Anadolu bahwa polisi Israel menangkap tiga warga Palestina di wilayah Al-Zuweidin dekat Hebron setelah seorang pemukim bernama Shimon menuduh mereka menabrak mobilnya. Menurut Ta’imat, pemukim yang sama telah berulang kali mengintimidasi warga untuk memaksa mereka meninggalkan wilayah tersebut.
Wilayah Tepi Barat dalam beberapa bulan terakhir mengalami peningkatan kekerasan pemukim Israel, termasuk pembakaran rumah, kendaraan, penyerangan petani, serta pengusiran paksa terhadap warga — tindakan yang menurut laporan dilakukan di bawah perlindungan langsung tentara Israel.
Menurut data resmi Palestina, sejak dimulainya perang Israel di Gaza, serangan tentara dan pemukim di Tepi Barat menyebabkan sedikitnya 1.079 warga Palestina gugur, melukai sekitar 11.000 orang, dan menangkap lebih dari 20.500 warga.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera


