Media massa Israel mengungkap detail kegagalan operasi militer sensitif yang dilakukan oleh pasukan pendudukan di jalur antara wilayah Al-Muhaysibat di kota Al-Taybeh dan kota Al-Qantara (Baydar Al-Nahr) pada Selasa, 7 April 2026. Laporan dari Saluran 15 Israel menyebutkan bahwa unit gabungan dari Batalyon Parasut 890 dan unit khusus Yahalom terjebak dalam penyergapan mematikan saat mencoba melakukan misi penyeberangan sungai yang dianggap vital untuk menguasai area di sisi lain menuju pintu masuk kota Qantara. Meskipun misi tersebut telah dipersiapkan selama 36 jam termasuk pengerahan peralatan teknik canggih, pergerakan pasukan tersebut berhasil dideteksi oleh pejuang Hizbullah saat mereka mencapai kedalaman area sasaran. Detik-detik penyergapan dimulai dengan hujan mortir dan roket yang sangat intens dan simultan dari setidaknya tiga baterai artileri, yang menghantam tepat di titik konsentrasi pasukan musuh hanya dalam hitungan menit.
Insiden tersebut mengakibatkan seorang sersan tewas seketika dan sekitar 20 tentara serta perwira lainnya luka-luka, sementara upaya evakuasi harus dilakukan di bawah tekanan tembakan yang terus-menerus. Kepemimpinan divisi dilaporkan sempat ragu-ragu antara melanjutkan misi atau mundur, namun karena jumlah korban terus meningkat dan elemen kejutan telah hilang sepenuhnya, perintah penarikan mundur akhirnya dikeluarkan. Dalam pelariannya, unit elit Yahalom terpaksa meninggalkan buldoser militer, perahu karet, dan berbagai peralatan teknik di wilayah Lebanon, sementara Batalyon 890 sempat tertahan di jantung area penyergapan selama lebih dari satu jam sebelum akhirnya benar-benar mundur tanpa membawa kembali peralatan mereka. Saluran 13 Israel menambahkan bahwa operasi ini merupakan upaya militer Israel untuk memperluas jangkauan melampaui Sungai Litani dekat area Khardali dengan membangun jembatan lapangan, namun sistem tempur terorganisir milik Hizbullah berhasil mematahkan rencana tersebut hingga menyebabkan rencana ekspansi militer dibekukan pada tahap ini.
Ruang operasi Perlawanan Islam di Lebanon mengonfirmasi keberhasilan penyergapan di poros Taybeh-Qantara ini melalui pernyataan resmi yang merinci konfrontasi heroik para pejuangnya di perbatasan Lebanon-Palestina. Hizbullah menegaskan bahwa manuver musuh berhasil digagalkan dengan kerugian material yang signifikan di pihak penjajah, mencakup hancurnya 10 tank dan dua unit buldoser. Dokumentasi mengenai peralatan militer canggih milik unit khusus Yahalom yang tertinggal di tanah Lebanon juga telah dipublikasikan sebagai bukti kemenangan taktis di lapangan. Kegagalan operasi penyeberangan ini menjadi pukulan telak bagi moral komando utara Israel yang terus berupaya menembus pertahanan kokoh perlawanan di wilayah selatan, namun justru berakhir dengan penarikan mundur yang memalukan dan hilangnya inisiatif strategis di medan tempur.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Voice of Emirates



