Surat kabar Amerika Serikat The Huffington Post melontarkan kritik keras terhadap eskalasi yang dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran. Media tersebut mempertanyakan urgensi peluncuran serangan baru terhadap fasilitas nuklir Teheran, mengingat kurang dari delapan bulan yang lalu, Donald Trump sempat mengeklaim telah melakukan penghancuran total terhadap program tersebut melalui agresi udara pada Juni tahun lalu. Laporan tersebut menyebutkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah membawa Amerika Serikat ke ambang peperangan demi mengakhiri program nuklir yang sebelumnya ia nyatakan sudah musnah sepenuhnya. Di tengah tekanan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pada Kamis, 19 Februari 2026, bahwa terdapat tenggat waktu selama 15 hari untuk mencapai kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat terkait isu nuklir, sembari menegaskan bahwa kesepakatan akan tercapai melalui cara apa pun.
Kritik dari The Huffington Post juga menyoroti fakta bahwa hingga saat ini Donald Trump belum memberikan penjelasan memadai mengenai alasan serangan kedua diperlukan, jika memang serangan pada Juni 2025 telah berhasil melumpuhkan fasilitas Iran. Bersamaan dengan ancaman tersebut, Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan telah menempatkan gugus tempur kapal induk pengangkut pesawat dalam jangkauan pesawat dan rudal Iran di Laut Arab. Selain itu, kelompok tempur lainnya tengah menuju wilayah Mediterania Timur untuk berada dalam posisi siap melindungi Israel serta pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan tersebut dari kemungkinan serangan balasan Iran. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa Donald Trump saat ini sedang menggiring Amerika Serikat ke dalam perang untuk mengakhiri sebuah program yang sebelumnya ia klaim telah dihancurkan sendiri oleh militernya.
Menanggapi ancaman militer tersebut, Iran telah mengirimkan pesan resmi kepada Dewan Keamanan dan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui perwakilannya. Teheran menegaskan bahwa pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kemungkinan serangan merupakan pelanggaran berat terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional yang berisiko menyeret kawasan ke dalam pusaran krisis serta ketidakstabilan baru. Iran menyatakan tidak menginginkan ketegangan dan tidak akan memulai peperangan, namun berdasarkan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, mereka akan memberikan respons tegas dalam kerangka hak membela diri apabila diserang. Dalam pesan tersebut, Iran memperingatkan bahwa seluruh pangkalan, fasilitas, dan aset milik kekuatan agresor di kawasan akan dianggap sebagai target sah, di mana Amerika Serikat akan memikul tanggung jawab penuh atas segala konsekuensi yang timbul.
Sejalan dengan sikap diplomatik tersebut, Komandan Angkatan Laut Iran Laksamana Shahram Irani menegaskan bahwa kehadiran armada militer dari negara-negara luar di wilayah Asia Barat sama sekali tidak memiliki dasar yang kuat. Saat melakukan kunjungan ke India untuk menghadiri KTT IONS serta latihan angkatan laut Milan 2026 pada Jumat, 20 Februari 2026, Laksamana Shahram Irani memperingatkan bahwa setiap upaya untuk memaksakan kekuatan militer akan dihadapi dengan reaksi yang jauh lebih kuat dari rakyat Iran. Ia menekankan bahwa selama 47 tahun terakhir, Republik Islam Iran telah terbiasa menghadapi berbagai ancaman dan propaganda internasional. Menurut Laksamana Shahram Irani, kekuatan pertahanan Iran saat ini bertumpu pada iman rakyat serta kapabilitas rudal nasional, yang menjadi faktor pencegah utama bagi musuh mana pun yang berniat mengganggu kedaulatan maupun kepentingan regional Iran.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Xinhua



