Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada Rabu dini hari, 8 April 2026, secara resmi mendeklarasikan kemenangan besar atas Amerika Serikat dan Israel setelah 40 hari konfrontasi militer yang sengit. Dalam pernyataan resminya, Teheran menegaskan bahwa seluruh tujuan militer musuh untuk melumpuhkan kapabilitas rudal dan drone serta memecah belah kedaulatan Iran telah gagal total. Kemenangan ini disebut sebagai hasil dari keteguhan rakyat dan sinergi front perlawanan di Lebanon, Irak, Yaman, dan Palestina yang berhasil memberikan kekalahan bersejarah bagi kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan. Dewan menekankan bahwa pukulan telak yang dialami musuh akan tetap tertanam kuat dalam memori sejarah kemanusiaan sebagai bukti ketidakberdayaan agresi ilegal di hadapan tekad bangsa yang berdaulat.
Pernyataan tersebut mengungkapkan bahwa pihak musuh telah menyadari ketidakmampuannya untuk meraih kemenangan sejak sepuluh hari pertama perang meletus, yang kemudian memicu berbagai upaya komunikasi melalui jalur diplomatik untuk meminta gencatan senjata. Keberhasilan ini diklaim sebagai buah dari pengabdian dan pengorbanan para pejuang di medan tempur, serta kebijakan strategis yang dipandu oleh pemimpin tertinggi Iran. Teheran menegaskan bahwa sebagian besar kapabilitas militer Amerika Serikat di kawasan telah hancur dan kerugian serius telah dialami oleh infrastruktur musuh, baik di pangkalan regional maupun di dalam wilayah pendudukan, yang pada akhirnya mempersempit ruang gerak lawan di seluruh front.
Sebagai bagian dari penyelesaian konflik, Amerika Serikat dilaporkan terpaksa menerima sepuluh poin persyaratan yang diajukan oleh Iran. Poin-poin tersebut mencakup komitmen awal untuk non-agresi, pengakuan atas kendali penuh Iran terhadap Selat Hormuz, hak pengayaan nuklir, penghapusan seluruh sanksi primer maupun sekunder, serta pembatalan resolusi Dewan Keamanan PBB dan Dewan Gubernur IAEA yang merugikan Iran. Selain itu, persyaratan tersebut juga menuntut kompensasi atas kerusakan yang dialami Iran, penarikan pasukan tempur Amerika Serikat dari kawasan, serta penghentian perang secara menyeluruh di semua front, termasuk front perlawanan di Lebanon.
Pengumuman kemenangan ini bertepatan dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui platform Truth Social mengenai penangguhan pemboman terhadap Iran selama dua minggu, dengan syarat pembukaan Selat Hormuz secara aman dan segera. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyambut baik kesepakatan gencatan senjata ini dan mendesak semua pihak untuk mematuhi kewajiban hukum internasional guna membuka jalan bagi perdamaian komprehensif di Timur Tengah. Di saat yang sama, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengonfirmasi bahwa kesepakatan gencatan senjata segera telah berlaku di seluruh wilayah konflik, menandai dimulainya fase diplomasi untuk mengakhiri salah satu konfrontasi paling kompleks dalam sejarah modern kawasan tersebut.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Press TV



