Kantor berita Reuters melaporkan bahwa seorang pejabat tinggi Amerika Serikat mengungkapkan harapan Washington agar Iran segera menyerahkan proposal tertulis guna menyelesaikan krisis menyusul pembicaraan yang berlangsung di Jenewa. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dijadwalkan akan terbang ke Israel untuk bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Sabtu, 28 Februari 2026, guna mendiskusikan persoalan Iran secara mendalam. Pejabat tersebut juga mencatat bahwa para penasihat keamanan nasional Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah membahas isu Iran dalam sebuah pertemuan yang diadakan di Ruang Situasi Gedung Putih pada Kamis, 19 Februari 2026. Dalam konteks yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa negaranya mungkin akan terpaksa menggunakan pangkalan militer di Pulau Diego Garcia yang terletak di Samudra Hindia untuk melancarkan serangan terhadap Iran apabila Teheran memutuskan untuk tidak menyepakati sebuah perjanjian nuklir.
Juru Bicara Gedung Putih Caroline Leavitt mengumumkan pada Rabu, 18 Februari 2026, bahwa Amerika Serikat memiliki banyak argumen kuat yang membenarkan dilakukannya serangan terhadap Iran, meskipun ia juga menyatakan bahwa langkah paling bijaksana bagi Teheran adalah mengupayakan kesepakatan guna menghindari terjadinya konflik bersenjata. Caroline Leavitt menambahkan bahwa terdapat ekspektasi bagi pihak Iran untuk kembali membawa rincian teknis dalam waktu dua minggu ke depan, walau ia mengakui bahwa kemajuan yang dicapai dalam pembahasan berkas nuklir Iran saat ini masih tergolong terbatas.
Dua putaran pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran mengenai program nuklir telah diluncurkan di Muscat dan Jenewa di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan serta penguatan kehadiran militer Washington, sementara pihak Teheran tetap menegaskan kepatuhannya terhadap hak nuklir yang sah sesuai dengan perjanjian internasional. Putaran negosiasi ini berlangsung setelah kegagalan pembicaraan tahun lalu yang bertepatan dengan agresi Israel terhadap Iran, di mana Amerika Serikat turut melakukan intervensi melalui pengeboman terhadap sejumlah fasilitas nuklir milik Iran. Menanggapi situasi tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pada Rabu, 18 Februari 2026, bahwa Amerika Serikat, Eropa, dan pihak Zionis tidak menginginkan Iran untuk mandiri, sehingga diperlukan persatuan nasional yang kuat untuk memecahkan masalah rakyat. Masoud Pezeshkian menekankan bahwa Iran akan tetap teguh dan meyakini bahwa persatuan akan mampu menggagalkan rencana musuh yang ingin menghambat kemajuan bangsa.
Pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian tersebut muncul di tengah ancaman militer Amerika Serikat yang terus berlanjut serta adanya kerusuhan bersenjata di dalam negeri Iran yang diduga digerakkan oleh pihak eksternal, terutama badan intelijen Mossad dan Amerika Serikat, dengan tujuan menyebarkan kekacauan. Komentar ini juga disampaikan pada saat putaran negosiasi tidak langsung masih berjalan di Muscat dan Jenewa, di mana Teheran terus menekankan keseriusan pendekatannya dalam mempresentasikan proposal yang konstruktif. Menanggapi ancaman Amerika Serikat yang menyertai proses negosiasi tersebut, Pemimpin Revolusi dan Republik Islam Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menyatakan pada Selasa, 17 Februari 2026, bahwa pihak lawan terus mengeklaim telah mengirimkan kapal induk ke arah Iran sebagai bentuk intimidasi. Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa meskipun kapal induk adalah perangkat militer yang berbahaya, Iran memiliki senjata yang jauh lebih mematikan yang mampu menenggelamkan kapal induk tersebut ke dasar laut jika agresi benar-benar terjadi.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera


