Skip to main content

Kepala Organisasi Intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Majid Khademi, mengumumkan bahwa setidaknya sepuluh badan intelijen asing terlibat langsung dalam kerusuhan yang melanda Iran pada Januari 2026. Dalam pernyataannya pada Kamis, 19 Februari 2026, ia mendeskripsikan rangkaian peristiwa tersebut sebagai upaya kudeta gagal yang dirancang oleh kekuatan luar namun berhasil dipatahkan oleh kesadaran rakyat Iran. Brigadir Jenderal Majid Khademi menegaskan bahwa perencanaan, koordinasi, serta manajemen jaringan lapangan dilakukan secara terstruktur melalui badan intelijen asing, dengan menyoroti peran khusus Unit 8200 dari intelijen militer Israel yang menggunakan jutaan akun bot dan akun asli di media sosial untuk memanipulasi opini publik.

Pihak intelijen Iran mengungkapkan adanya rencana tujuh tahap yang disusun oleh musuh untuk mengguncang stabilitas negara. Rencana tersebut meliputi upaya mengubah aksi protes menjadi pemogokan massal nasional, penargetan markas besar keamanan dan militer, hingga rekayasa kematian untuk memicu kemarahan publik. Selain itu, strategi tersebut mencakup serangan siber terhadap infrastruktur vital, penghubungan titik-titik protes dengan sel bersenjata dan organisasi teroris, serta pemberian dukungan politik dan media internasional guna membuka jalan bagi intervensi militer langsung yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

Sebagai tindakan penegakan hukum, layanan keamanan Iran dilaporkan telah memanggil 2.735 orang yang diduga terkait dengan jaringan bermusuhan serta memberikan peringatan keras kepada sekitar 13.000 individu. Dalam operasi pengamanan tersebut, otoritas menyita 1.173 pucuk senjata tanpa izin dan menangkap sejumlah individu yang terbukti memiliki hubungan langsung dengan agensi asing. Brigadir Jenderal Majid Khademi menjelaskan bahwa kerusuhan tersebut berbarengan dengan kampanye “perang kognitif” di media sosial yang memanipulasi algoritma untuk menyebarkan konten provokatif guna merusak kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Brigadir Jenderal Majid Khademi menilai peristiwa pada Januari tersebut memiliki karakteristik “kuasi-kudeta” karena adanya intervensi asing secara tidak langsung melalui pendanaan serta dukungan logistik bagi kekuatan oposisi internal maupun eksternal. Ia menekankan bahwa faktor penentu dalam menggagalkan rencana tersebut adalah kemampuan layanan keamanan untuk membedakan antara tuntutan rakyat yang sah dengan tindakan kekerasan terorganisir, serta kerja sama erat dari masyarakat dalam menjaga ketertiban. Meskipun situasi telah mereda, ia memperingatkan bahwa upaya untuk mendestabilisasi Iran melalui “perang komposit” yang menggabungkan instrumen ekonomi, media, dan keamanan akan terus berlanjut, namun ia meyakinkan bahwa seluruh skenario musuh kini telah terpantau dan berada dalam pengawasan konstan.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Press TV