Skip to main content

Seorang perempuan Palestina terluka pada Rabu malam, 12 November 2025, akibat serangan pemukim ekstremis Zionis terhadap kendaraan warga di desa Rashayda, sebelah timur Bethlehem, di wilayah Tepi Barat yang diduduki.

Sumber-sumber Palestina melaporkan bahwa para pemukim menyerang mobil-mobil warga yang melintas di jalan utama yang menghubungkan Kisan dan Rashayda—jalur di mana berdiri permukiman ilegal Ma’ale Amos dan Ibei Hanahal—hingga menyebabkan seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun mengalami luka-luka.

Di Jenin, seorang pemuda dan seorang anak terluka oleh tembakan pasukan pendudukan Israel dalam penggerebekan di kota Qabatiya, selatan Jenin, pada malam yang sama.
Sumber lokal menyebut bahwa pasukan pendudukan menyerbu kota itu dengan sejumlah kendaraan militer dan menembaki warga di Jalan Kafe, melukai dua orang.

Sumber medis Palestina mengatakan seorang pemuda berusia 20 tahun tertembak di kaki, sementara seorang anak berusia 17 tahun mengalami luka tembak di tangan. Keduanya mendapat pertolongan pertama dari tim Bulan Sabit Merah Palestina sebelum dibawa ke rumah sakit.

Di Ramallah, seorang pemuda Palestina juga tertembak oleh pemukim bersenjata dalam serangan di kota Sinjil, sebelah utara Ramallah.
Menurut laporan, kelompok bersenjata Zionis menyerang daerah Khirbet al-Tall dan menembaki sekelompok pemuda yang berada di lokasi, hingga satu orang terkena peluru di bagian kaki.

Pemerintah kota Sinjil menyebut serangan itu sebagai aksi terorganisir, di mana para pemukim melepaskan tembakan ke arah Komite Penjaga Rakyat yang bertugas melindungi kota dan penduduknya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa “kejahatan ini terjadi dalam konteks meningkatnya serangan pemukim yang mendapat dukungan langsung dari tentara pendudukan, untuk memaksakan kenyataan kolonial baru di lapangan.”

Sementara itu, Otoritas Wilayah Yerusalem mengutuk keras tindakan pendudukan Israel di desa Qalandiya, utara Yerusalem, yang dinilai sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan Konvensi Jenewa.
Pemerintah pendudukan mengklaim proyek tersebut sebagai pembangunan fasilitas pengolahan limbah dan pemulihan energi bagi kepentingan kotamadya Israel, namun faktanya dilakukan di atas tanah Palestina di balik tembok pemisah.

Otoritas Yerusalem menegaskan proyek itu merupakan bagian dari kebijakan aneksasi ilegal dengan dalih lingkungan, guna mengubah karakter demografis dan geografis kota.
Pasukan pendudukan dilaporkan telah membagikan surat penggusuran kepada sejumlah keluarga di Qalandiya, memerintahkan mereka meninggalkan rumah dan lahan pertanian dalam waktu 20 hari. Warga berencana menggugat keputusan yang mereka sebut sebagai “kezaliman hukum”.

Rencana Israel juga mencakup pengalihan jalur tembok pemisah untuk memasukkan tanah yang ditargetkan ke dalam wilayah “di balik tembok”, sehingga lebih banyak lahan disita dan rumah dihancurkan—bertentangan dengan klaim Israel bahwa tembok tersebut hanya untuk tujuan keamanan.

Proyek ini bermula pada Juni 2024, ketika pemerintah pendudukan menugaskan Eden Company, yang berafiliasi dengan kotamadya Israel, untuk menentukan lokasi fasilitas di atas lahan seluas 130 dunam di Qalandiya.
Kini proyek itu dihidupkan kembali dengan memanfaatkan perintah penyitaan lama dari tahun 1970 dan 1982, memperluas kontrol Israel atas lebih dari 1.300 dunam tanah di Qalandiya dan Beit Hanina.

Sementara itu, aksi perlawanan terhadap pendudukan terus berlanjut di berbagai wilayah Tepi Barat.

Pusat Informasi Palestina (Ma’ta) melaporkan 22 operasi perlawanan dalam 24 jam terakhir, mencakup peledakan alat peledak rakitan, pelemparan bom molotov, penyerangan terhadap kendaraan pemukim, serta bentrokan lapangan dan demonstrasi rakyat di berbagai kota.

  • Di Yerusalem yang diduduki, bentrokan pecah di daerah Khallat al-Sidra ketika warga menghadang upaya pemukim menyerang lingkungan mereka.
  • Di Ramallah, bentrokan hebat terjadi di Ni’lin, di mana para pemuda melempar batu ke arah pasukan pendudukan yang menyerbu kota.
  • Di Silwad, aksi serupa menimbulkan kerusakan pada beberapa kendaraan pemukim.
  • Di Jenin, kota dan kamp pengungsi menjadi medan perlawanan sengit antara warga dan pasukan Israel. Para pemuda melempar batu serta bahan peledak rakitan untuk menghadang serbuan tentara.
  • Di Tulkarm, bentrokan meluas ke Jabal al-Nasr dan Tubas, di mana pemuda melempar bom molotov dan meledakkan alat peledak selama penggerebekan di Aqaba.
  • Di Nablus, aksi perlawanan terjadi di Beit Furik dengan pelemparan bom molotov ke arah kendaraan militer, sementara di Beita warga turun ke jalan melawan pemukim.
  • Di Qalqilya, bentrokan terjadi di Jayyous dengan pelemparan batu ke arah pasukan Israel, sedangkan di Rashayda, timur Bethlehem, konfrontasi juga pecah dengan para pemukim.
  • Di Hebron, pasukan Israel diserang batu oleh pemuda di Beit Ummar, sementara kendaraan militer menjadi sasaran dalam bentrokan yang berlangsung hingga larut malam.

Sumber berita: Al-Manar

Sumber gambar: The Standard