Skip to main content

Pembaruan teknis kecil di platform X berubah menjadi pengungkapan besar tentang sejauh mana interferensi asing ikut membentuk percakapan publik di ruang digital. Setelah fitur “Account Origin Country” diaktifkan, ribuan pengguna mendapati bahwa lokasi banyak akun tidak sesuai dengan identitas yang mereka tampilkan. Temuan itu membuka kembali perdebatan mengenai aktor-aktor tersembunyi yang mengendalikan sebagian besar percakapan politik global, serta bagaimana narasi negara dan konflik siber dibangun dan disebarkan dalam skala luas.

Fitur tersebut menunjukkan bahwa sejumlah akun politik di Amerika Serikat dan dunia Arab ternyata dikelola dari negara lain meskipun menampilkan diri sebagai akun lokal atau partisan, mengungkap aktivitas terorganisasi yang melintasi batas negara dan memengaruhi diskusi politik. Laporan Yahoo News mencatat bahwa beberapa akun paling vokal dalam pertikaian antara Republikan dan Demokrat justru dijalankan dari Rusia, India, Bangladesh, dan Israel, meski mengaku sebagai akun konservatif atau liberal Amerika.

Fenomena serupa tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Di dunia Arab, fitur ini langsung memicu kontroversi besar setelah pengguna mendapati sejumlah akun yang mengaku mewakili “suara jalanan” suatu negara ternyata dikelola dari luar negeri, bahkan oleh pihak-pihak yang tidak memiliki hubungan dengan isu yang dibahas. Banyak laporan menggambarkan pembaruan ini sebagai “fitur paling kontroversial dalam beberapa tahun terakhir.”

Dimensi politik temuan ini semakin terang ketika dikaitkan dengan perang di Gaza, Lebanon, dan kawasan. PressTV melaporkan bahwa X sempat menonaktifkan fitur terjemahan otomatis bahasa Ibrani setelah terjemahan tersebut memperlihatkan tingkat hasutan dan kekerasan dalam akun-akun Israel, termasuk akun resmi. Menurut France 24, keputusan itu diambil untuk “menjaga citra Israel.”

Laporan di platform India, OpIndia, mencatat bahwa munculnya negara asal akun mengonfirmasi kecurigaan lama bahwa banyak akun yang berperan dalam perdebatan politik lokal sebenarnya dijalankan dari luar negeri dalam kampanye digital yang terorganisasi. Beberapa laporan bahkan menyebut keberadaan jaringan-jaringan yang beroperasi di luar konteks politik negara sasaran namun turut campur langsung dalam urusan dalam negeri negara tersebut.

Pada Maret 2024, lembaga Israel FakeReporter mengungkap ratusan akun palsu asal Israel yang digunakan dalam kampanye digital untuk mempengaruhi audiens muda Barat. Kampanye itu memperkuat narasi Israel terhadap UNRWA dan Hamas selama perang di Gaza, dengan fokus khusus untuk memengaruhi anggota parlemen Amerika. Kampanye tersebut beroperasi di berbagai platform dan tidak selalu menggunakan informasi palsu, melainkan memperbanyak dan menguatkan klaim yang menguntungkan posisi Israel.

Pada tahun yang sama, Kementerian Urusan Diaspora Israel yang dipimpin Yuli Edelstein meluncurkan kampanye pengaruh digital senilai 2 juta dolar di AS dan Kanada. Menurut The New York Times, kampanye itu dijalankan oleh perusahaan STOIC dan bertujuan menyebarkan narasi propendudukan Israel serta mendiskreditkan komunitas Muslim. Jaringan situs dan akun yang digunakan dirancang untuk memecah belah koalisi pro-Palestina serta mengaitkan isu hak sipil Amerika dengan wacana Zionis.

Pengungkapan ini semakin memperkuat gambaran bahwa yang terbongkar bukanlah akun-akun individual, tetapi keterhubungan yang rumit antara platform digital dan pihak eksternal—pemerintah, perusahaan, serta kelompok penekan digital—yang bekerja dengan identitas palsu untuk memengaruhi opini publik. Situasi ini juga menyoroti peran karyawan dengan latar belakang keamanan dan militer dalam tim moderasi konten, serta dampaknya terhadap perbincangan mengenai Palestina dan dunia Arab.

Dalam konteks perebutan narasi, temuan ini tidak dapat dipisahkan dari laporan sebelumnya tentang program Israel yang menawarkan pembayaran hingga 7.000 dolar kepada influencer Barat untuk memoles citra Israel selama perang di Gaza, lengkap dengan naskah siap pakai, tagar seragam, dan materi visual produksi tinggi. Sekitar dua bulan lalu, setelah pidatonya di Majelis Umum PBB, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menggelar pertemuan tertutup dengan para influencer Amerika pendukung Israel untuk mengoordinasikan “perang narasi” di media sosial.

Di sisi lain, penyelidikan FBI antara 2016 dan 2019 mengungkap aktivitas perusahaan Israel Psy-Group—yang dijalankan mantan perwira Unit 8200—dalam operasi perang psikologis di ruang digital selama pemilu AS. Perusahaan itu mengelola ribuan akun palsu yang meniru logat berbagai bangsa untuk mempengaruhi opini publik dan perilaku pemilih Amerika, hingga menciptakan “realitas virtual alternatif.” Dalam kasus yang serupa, investigasi BBC pada 2014 membuktikan bahwa Kementerian Luar Negeri Inggris mendanai halaman palsu dan kampanye media terkait Suriah melalui perusahaan-perusahaan di Dubai, Siprus, dan Turki guna memengaruhi opini publik Suriah dan internasional.

Fitur baru di X, yang awalnya hanya pembaruan teknis kecil, berakhir mengungkap kenyataan yang jauh lebih kelam: ruang digital bukan lagi cerminan suara masyarakat, melainkan arena perebutan pengaruh antara pemerintah, ruang operasi, tentara siber, dan perusahaan-perusahaan yang mengelola jaringan identitas palsu. Lebih membahayakan lagi, apa yang terungkap sejauh ini kemungkinan hanyalah bagian kecil dari sistem jauh lebih besar yang beroperasi dalam bayang-bayang—sebuah sistem yang membutuhkan pengawasan, pemantauan, dan akuntabilitas berkelanjutan.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: The Hindu