Skip to main content

Israel kembali melancarkan serangan udara dan tembakan intensif di sejumlah wilayah Gaza pada Minggu, 7 Desember 2025, meskipun gencatan senjata yang diumumkan pada 11 Oktober 2025 secara resmi masih berlaku. Menurut laporan koresponden Al-Mayadeen, sebuah helikopter Apache melepaskan tembakan ke arah timur Deir al-Balah di Gaza tengah, sementara wilayah timur Kamp Maghazi turut menjadi sasaran serangan. Di Gaza selatan, kendaraan militer Israel dilaporkan menembaki wilayah utara Rafah.

Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan bahwa dalam 24 jam terakhir, enam warga Palestina gugur dan 17 lainnya terluka, sementara tim ambulans dan pertahanan sipil masih tidak dapat mencapai banyak korban yang terjebak di bawah reruntuhan maupun di jalanan. Dengan tambahan angka ini, jumlah korban sejak dimulainya gencatan senjata mencapai 373 syahid dan 970 luka-luka, sementara jenazah yang berhasil dievakuasi dari puing-puing bertambah menjadi 624. Secara keseluruhan, total korban agresi Israel sejak 7 Oktober 2023 telah meningkat menjadi 70.360 syahid dan 171.047 luka-luka.

Di tengah pelanggaran gencatan senjata yang terus berlangsung, Channel 15 Israel melaporkan adanya pembicaraan antara Israel dan Otoritas Palestina mengenai kemungkinan mengizinkan kembalinya para pengungsi dari kamp-kamp di Tepi Barat utara, terutama Kamp Jenin, yang telah mengalami penghancuran besar-besaran sejak awal tahun. Israel mengajukan lima syarat utama, termasuk syarat paling kontroversial, yaitu penghapusan UNRWA serta organisasi kemanusiaan internasional lainnya dari kamp-kamp tersebut, sehingga seluruh layanan akan diserahkan sepenuhnya kepada Otoritas Palestina. Israel memandang langkah ini sebagai upaya untuk mengubah kamp-kamp tersebut dari wilayah dengan status internasional yang terkait dengan hak kembali pengungsi, menjadi kawasan yang sepenuhnya berada di bawah administrasi lokal Palestina—sebuah langkah yang dianggap Israel sebagai gerbang untuk mengakhiri isu pengungsi Palestina.

Otoritas Palestina menolak keras syarat tersebut karena dinilai mengandung implikasi politik serius, termasuk kesan bahwa Otoritas Palestina menyetujui penghapusan isu pengungsi. Syarat-syarat lain yang diajukan Israel mencakup persyaratan bahwa warga hanya boleh kembali setelah militer Israel menyelesaikan “rekayasa ulang kawasan,” pembangunan jalan dan infrastruktur harus dilakukan dalam koordinasi penuh dengan militer, serta kewajiban Otoritas Palestina untuk mendirikan pos pemeriksaan, kantor kepolisian, dan mencegah masuknya individu yang diklasifikasikan Israel sebagai “teroris.”

Sementara itu, ketegangan di Tepi Barat terus meningkat. Dua pemuda Palestina ditembak mati oleh tentara Israel di Hebron setelah Israel mengklaim bahwa keduanya melakukan serangan tabrak mobil yang melukai seorang serdadu. Pasukan Israel juga menangkap empat pemuda di pintu masuk Kamp Al-Arroub, dan menembak seorang warga di dekat tembok pemisah di Al-Ram, utara Yerusalem. Di Jenin, para pejuang perlawanan menyasar pasukan Israel dengan bom rakitan saat mereka menggerebek Silat al-Harithiya. Penggerebekan militer juga berlangsung di berbagai wilayah Tepi Barat utara sejak fajar.

Serangan pemukim Israel turut memperburuk situasi. Di Desa Al-Mughayyir, timur Ramallah, sekelompok pemukim menyerang keluarga Rizq Abu Naim, melukai istrinya hingga tulang tangannya patah dan memukul cucunya di bagian kepala. Dua aktivis solidaritas internasional yang berada di lokasi turut diserang dengan tongkat dan batu. Pada hari yang sama, para pemukim mendirikan beberapa rumah karavan antara Burqa dan Deir Dibwan sebagai upaya memperluas permukiman ilegal “Ramat Migron.”

Penggerebekan Israel juga berlangsung di Kota Tua Nablus, Jannata di Bethlehem, Birzeit di utara Ramallah, serta Bruqin di barat Salfit. Di Jenin, beberapa rumah dirusak dan seorang warga ditahan serta diinterogasi di tempat. Pagi harinya, seorang mantan tahanan kembali ditangkap di Al-Mazra’a al-Gharbiya.

Situasi yang semakin memburuk ini terjadi bersamaan dengan pelanggaran gencatan senjata yang terus berlanjut, serta meningkatnya tekanan Israel terhadap wilayah Tepi Barat dan Gaza, memperdalam krisis kemanusiaan yang masih berlangsung.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera