Skip to main content

Kantor Hubungan Masyarakat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran merilis Pernyataan Nomor 8 terkait Operasi True Promise 4 pada hari Minggu, 1 Maret 2026, yang mengonfirmasi bahwa serangan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di sejumlah negara kawasan telah mengakibatkan sekitar 560 personel militer Amerika tewas dan terluka. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa gelombang ketujuh dan kedelapan dari operasi ini dilancarkan sebagai respons berkesinambungan terhadap agresi Amerika-Israel yang menghantam Iran. Berdasarkan pemantauan lapangan dan intelijen, sirine yang terus berbunyi serta pergerakan ambulans di dalam pangkalan-pangkalan AS dan Israel mencerminkan kondisi kebingungan serta krisis psikologis hebat di kalangan tentara Amerika dan pemukim Zionis. IRGC menegaskan bahwa tekanan militer akan terus berlanjut guna mempersempit ruang gerak musuh.

Dampak destruktif dari serangan rudal dan drone ini merata di berbagai titik strategis. Pangkalan udara “Ali Al Salem” di Kuwait dinyatakan keluar dari layanan operasional, sementara tiga fasilitas infrastruktur maritim di pangkalan “Mohammed Al Ahmad” Kuwait hancur total. Di Bahrain, pangkalan angkatan laut AS di pelabuhan Mina Salman dihantam empat drone yang merusak pusat komando dan pendukung, ditambah dua rudal balistik yang menyasar kediaman militer AS. Di wilayah perairan, kapal induk “Abraham Lincoln” menjadi target serangan terkonsentrasi empat rudal balistik, disusul terbakarnya tiga kapal tanker minyak milik Amerika Serikat dan Inggris di Teluk serta Selat Hormuz akibat hantaman rudal. Meskipun Komando Pusat AS (CENTCOM) hanya mengakui kematian 3 tentara, data internal IRGC menunjukkan angka korban yang jauh lebih masif sebagai hasil dari pencapaian ofensif angkatan bersenjata Iran.

Di sisi lain, kebijakan agresif Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mendapat tentangan keras dari dalam negerinya sendiri. Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis pada hari Minggu, 1 Maret 2026, menunjukkan bahwa mayoritas warga Amerika menolak serangan terhadap Iran yang menyebabkan syahadah Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Data tersebut merinci bahwa hanya 27% responden yang mendukung serangan tersebut, sementara 43% menyatakan penolakan tegas, dan 29% lainnya tidak memberikan pendapat jelas. Hal ini berarti hanya satu dari empat warga Amerika yang menyetujui tindakan militer tersebut.

Keresahan publik Amerika juga terlihat dari persepsi terhadap gaya kepemimpinan Trump, di mana sekitar 56% warga Amerika percaya bahwa Presiden Donald Trump terlalu condong menggunakan kekuatan militer untuk kepentingan pribadinya. Pandangan ini didukung oleh 87% pendukung Demokrat, 60% pemilih independen, serta 23% dari internal Partai Republik sendiri. Menanggapi situasi ini, para anggota Kongres dari Partai Demokrat melancarkan kritik tajam terhadap Trump dan menuntut pengambilan tindakan hukum terhadap pemerintahannya, termasuk tuntutan untuk segera mengesahkan undang-undang mengenai kekuasaan perang (War Powers Act) guna membatasi wewenang militer presiden yang dianggap membahayakan stabilitas global.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: SSBCrack