Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan dalam wawancara eksklusif dengan Al-Mayadeen pada hari Minggu, 1 Maret 2026, bahwa konfrontasi yang terjadi saat ini merupakan perang yang menentukan nasib Asia Barat secara keseluruhan. Baghaei menyatakan bahwa agresi ini harus disebut sebagai “perang melawan Iran”, bukan “perang Iran”, karena posisi Teheran murni dalam koridor pembelaan diri. Terkait syahadah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, beliau menekankan bahwa pembunuhan tersebut adalah kejahatan internasional yang memicu perang religius di kawasan, mengingat kedudukan almarhum bukan sekadar pemimpin biasa atau otoritas keagamaan, melainkan simbol perlawanan selama 37 tahun bagi rakyat Palestina dan seluruh bangsa di kawasan. Baghaei menegaskan bahwa sistem Republik Islam tidak bergantung pada satu orang saja, dan syahadah sang pemimpin justru memicu gelombang demonstrasi besar di berbagai negara sebagai bentuk perlawanan terhadap proyek “Greater Israel”.
Mengenai penargetan pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat, Baghaei memberikan klarifikasi penting bahwa serangan di beberapa negara tersebut tidak diarahkan terhadap negara-negara bersangkutan. Beliau menjelaskan bahwa Iran meluncurkan rudal ke pangkalan di negara-negara Arab sebagai bentuk bela diri terhadap pangkalan musuh yang digunakan untuk menyerang Iran pada hari Minggu, 1 Maret 2026. Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menunjukkan bahwa pangkalan yang menjadi sasaran tidak dianggap berada di wilayah negara-negara itu, melainkan secara de facto diperlakukan sebagai tanah Amerika. Baghaei menyatakan bahwa seluruh upaya pasukan Iran difokuskan untuk menyerang semua aset yang digunakan musuh melawan Iran, termasuk fasilitas yang digunakan oleh musuh di kawasan. Beliau menegaskan kembali bahwa negaranya tidak memiliki masalah dengan bangsa atau negara tetangga di Teluk, yang dianggap sebagai negara sahabat dalam kerangka hubungan bertetangga yang baik.
Baghaei menjelaskan bahwa Iran saat ini bekerja dengan seluruh kapabilitasnya untuk membela kedaulatan, rakyat, serta anak-anak dan perempuan dari agresi yang memuncak pada hari Minggu, 1 Maret 2026. Beliau menekankan bahwa keputusan untuk mempertahankan Iran berada sepenuhnya di tangan angkatan bersenjata dan otoritas mereka, di mana Iranlah yang menentukan apa yang akan digunakan dan target mana yang akan disasar. Baghaei juga menyatakan bahwa isu kelanjutan konflik tidak ada dalam agenda Iran, dan setiap usulan mengenai stabilitas di Selat Hormuz seharusnya diajukan kepada pihak agresor. Menurutnya, kawasan saat ini sedang menghadapi kekacauan, dan negara-negara dunia seharusnya menuntut pihak yang meluncurkan agresi untuk bertanggung jawab atas stabilitas yang terganggu.
Terkait jalur diplomasi, Baghaei menyoroti pertemuan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) yang akan diadakan di Wina pada hari Senin, 2 Maret 2026. Beliau berharap posisi badan tersebut akan seimbang dan tidak memihak, seraya mengkritik Direktur Jenderal IAEA yang dianggap sering mengambil posisi yang dipolitisasi. Baghaei mengungkapkan fakta bahwa Iran sebenarnya sedang melakukan negosiasi, namun pihak lawan justru menggunakan proses tersebut sebagai dalih untuk menyerang. Sedianya, pertemuan antara Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan berlangsung di Wina, namun agresi militer justru dilakukan dua hari sebelum jadwal pertemuan tersebut. Dalam konteks ini, beliau menekankan pentingnya peran Tiongkok dan Rusia di PBB untuk mengimbangi agresi dan pengkhianatan diplomasi yang dilakukan oleh pihak Barat dan entitas Zionis.
Keadaan darurat ini juga direspon dengan pengaktifan mekanisme konstitusional di Teheran pada hari Minggu, 1 Maret 2026. Majelis Ahli, yang terdiri dari dewan fuqaha, tengah bersidang intensif untuk memilih suksesor yang akan memegang otoritas tertinggi negara. Hingga pemimpin baru diumumkan, otoritas sementara dijalankan oleh dewan yang terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Kehakiman Sheikh Gholam Hossein Mohseni Ejei, dan Sheikh Ali Reza Arafi. Sheikh Ejei menegaskan bahwa para pemimpin baru akan segera mengisi posisi yang ditinggalkan oleh para martir guna membuktikan kepada musuh bahwa rakyat Iran tidak akan menyerah pada tindakan teroris dan intimidasi psikologis. Seluruh kementerian dan komite khusus juga telah diinstruksikan untuk menjamin kelancaran layanan publik dan stabilitas ekonomi nasional selama masa perang ini.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: United News of Bangladesh



