Skip to main content

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan dalam wawancara dengan program “Morning Joe” di saluran MSNOW pada Sabtu, 21 Februari 2026, bahwa tidak ada solusi militer untuk menangani program nuklir Iran. Araghchi menjelaskan bahwa upaya penghancuran melalui kekuatan fisik telah dicoba sebelumnya namun terbukti gagal total karena teknologi nuklir Iran dikembangkan secara mandiri oleh ilmuwan domestik. Ia menekankan bahwa pengetahuan dan teknologi tersebut kini telah menjadi milik bangsa Iran sehingga tidak dapat dilenyapkan melalui aksi pengeboman maupun serangan militer. Menurutnya, satu-satunya jalan keluar yang rasional adalah melalui jalur diplomasi, yang menjadi alasan utama mengapa Amerika Serikat kini kembali ke meja perundingan guna mencari kesepakatan baru.

Dalam konteks negosiasi, Araghchi mengungkapkan bahwa pembicaraan di Jenewa telah berlangsung dengan sangat baik dan menghasilkan kesepakatan mengenai “prinsip-prinsip panduan” untuk draf perjanjian di masa depan. Ia mengklarifikasi bahwa hingga saat ini Iran tidak pernah mengusulkan penghentian pengayaan uranium, dan di sisi lain, pihak Amerika Serikat juga tidak mengangkat tuntutan mengenai “nol pengayaan” (zero enrichment). Fokus utama diskusi saat ini adalah mencari formula teknis dan politik untuk memastikan program nuklir Iran tetap bertujuan damai selamanya, sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi secara menyeluruh terhadap Teheran. Araghchi juga memuji peran konstruktif Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi yang memberikan usulan teknis untuk menjamin transparansi program tersebut.

Menanggapi ancaman dan penumpukan kekuatan militer di sekitar wilayah Iran oleh pemerintahan Donald Trump, Araghchi memperingatkan bahwa opsi militer hanya akan memperumit situasi dan membawa konsekuensi bencana, tidak hanya bagi Iran tetapi juga bagi stabilitas internasional. Ia menyatakan bahwa Iran siap untuk perdamaian dan diplomasi, namun di saat yang sama memiliki kesiapan penuh untuk membela diri jika agresi tetap dilancarkan. Araghchi menekankan bahwa kebijakan permusuhan Amerika Serikat selama puluhan tahun—mulai dari sanksi hingga mekanisme snapback—telah terbukti tidak berhasil menundukkan keinginan rakyat Iran.

Araghchi juga mengirimkan pesan langsung kepada publik Amerika Serikat dengan menyatakan bahwa Iran tidak menganggap rakyat Amerika sebagai musuh, melainkan menentang kebijakan permusuhan yang dijalankan oleh pemerintahnya. Ia menegaskan bahwa hubungan yang berbeda dapat terwujud jika tindakan bermusuhan tersebut dihentikan dan jika Amerika Serikat mulai berkomunikasi dengan bahasa penghormatan, bukan bahasa kekuatan. Meski Presiden Donald Trump menyebut kesepakatan yang adil itu mungkin tercapai, Araghchi mengingatkan bahwa hal tersebut menuntut kreativitas serta fleksibilitas dari kedua belah pihak guna mengubah jalur diplomasi ini menjadi kesepakatan yang saling menguntungkan.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Axios