Skip to main content

Sebagai respons atas agresi Israel dan dalam rangka membela Lebanon serta rakyatnya, Perlawanan Islam melaksanakan 21 operasi militer pada Senin, 11 November 2024. Operasi-operasi tersebut terutama menargetkan permukiman, lokasi militer, barak, dan konsentrasi pasukan musuh Israel di sepanjang perbatasan Lebanon–Palestina, dengan menggunakan rudal dan tembakan artileri.

Di front darat, para pejuang Perlawanan Islam memantau pergerakan tentara musuh Israel di dalam sebuah rumah di kawasan Dataran Sari, di sisi barat laut Kfarkela. Mereka kemudian menghantam sasaran tersebut dengan rudal berpemandu, yang mengakibatkan korban di pihak musuh. Para pejuang juga menargetkan konsentrasi pasukan Israel di sisi timur Maroun al-Ras dengan rentetan roket dan tembakan artileri, dengan hasil hantaman yang terkonfirmasi.

Unit rudal Perlawanan melancarkan salvo rudal ke sejumlah pangkalan militer, permukiman, dan kota di Palestina yang diduduki di wilayah utara, termasuk Pangkalan Ami’ad—markas Komando Utara tentara Israel—di selatan kota Safed yang diduduki, pangkalan pelatihan Brigade Parasut di permukiman Karmiel, Pangkalan Shiraga di utara kota Acre yang diduduki, Pangkalan Industri Militer Zvulun di utara Haifa yang diduduki, serta kawasan Krayot di utara Haifa yang diduduki.

Dalam rangkaian Operasi Khaibar, Angkatan Udara Perlawanan Islam melancarkan serangan udara menggunakan satu skuadron drone serang terhadap Pangkalan Regavim—pangkalan pelatihan utama Brigade Golani—yang berjarak sekitar 65 kilometer dari perbatasan Lebanon–Palestina di selatan Haifa yang diduduki, dengan hantaman presisi.

Angkatan udara Perlawanan juga menargetkan pangkalan logistik Divisi ke-146 di utara kota Sheikh Danoun yang diduduki, di sebelah timur permukiman Nahariya, serta konsentrasi pasukan musuh di sisi timur Maroun al-Ras dan di permukiman Avivim, menggunakan skuadron drone selam, dan mencapai hantaman langsung.

Dalam konferensi pers di jantung Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut, pejabat hubungan media Hizbullah, komandan yang gugur Hajj Muhammad Afif, menegaskan bahwa para pejuang Perlawanan—terutama di garis depan—memiliki persenjataan, perlengkapan, dan logistik yang memadai untuk perang jangka panjang yang sedang dipersiapkan di semua level.

Sebaliknya, media Israel melaporkan bahwa Hizbullah meluncurkan lebih dari 90 roket dalam waktu seperempat jam ke arah Acre, Krayot, Nahariya, dan Teluk Haifa, yang digambarkan oleh sejumlah sumber sebagai pemboman paling dahsyat terhadap kawasan Krayot sejak awal perang.

Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa warga Haifa dan Krayot, yang baru-baru ini menjadi sasaran tembakan Hizbullah, kehilangan kepercayaan terhadap pernyataan pemerintah tentang “kemenangan”. Koran tersebut mengutip seorang warga Krayot yang mengatakan, “Organisasi yang kalah tidak menembakkan sembilan puluh roket dalam setengah jam. Tidak ada yang bisa menjual ilusi kemenangan kepada kami.”

Situs berbahasa Ibrani Walla menyebutkan bahwa laju serangan Hizbullah pada Oktober 2024 meningkat empat kali lipat dibandingkan bulan-bulan sebelum pecahnya perang. Sementara itu, Channel 12 mengutip seorang pejabat militer Israel yang mengakui bahwa Hizbullah mulai pulih dan merebut kembali kapabilitasnya, khususnya dalam kepemimpinan dan kendali.

Tentara Israel mengumumkan bahwa 15 perwira dan prajurit terluka dalam 24 jam terakhir akibat pertempuran dengan Hizbullah.

Pada hari yang sama, sirene peringatan tercatat berbunyi 22 kali di berbagai wilayah Palestina yang diduduki di bagian utara, terutama di permukiman Galilea Hulu dan sepanjang garis pantai dari Ras al-Naqoura di utara hingga kota Haifa yang diduduki di selatan.

Sumber berita: Al-Manar

Sumber gambar: Asharq Al Awsat