Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza mengonfirmasi kedatangan dua syuhada baru dan enam korban luka ke rumah sakit-rumah sakit di wilayah tersebut dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Data terbaru yang dipublikasikan kementerian pada Senin, 15 Desember 2025, mencatat bahwa sejak gencatan senjata di Gaza mulai berlaku pada 11 Oktober 2025, jumlah syuhada telah mencapai 393 orang, sementara korban luka berjumlah 1.068 orang, dengan 632 jenazah berhasil dievakuasi dari reruntuhan.
Kementerian juga melaporkan bahwa akumulasi korban akibat perang genosida Israel terhadap Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah meningkat menjadi 70.665 syuhada dan 171.145 orang luka-luka.
Di tengah gencatan senjata yang terus dilanggar, agresi Israel terhadap Gaza masih berlanjut. Koresponden Al-Mayadeen melaporkan bahwa seorang anak perempuan mengalami luka di bagian tangan akibat tembakan kendaraan militer pendudukan Israel di wilayah Rafah, Gaza selatan. Ia juga menyebutkan bahwa tank-tank Israel menembakkan senapan mesin ke arah timur Kota Khan Younis di selatan Jalur Gaza, serta ke wilayah timur Kota Gaza. Selain itu, kawasan Gaza utara terus mengalami pemboman secara berulang.
Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memburuk, khususnya dengan masuknya musim hujan dan musim dingin. Koresponden Al-Mayadeen menggambarkan penderitaan para pengungsi yang tinggal di tenda-tenda darurat, yang tidak mampu melindungi mereka dari cuaca ekstrem. Di kawasan Al-Jundi Al-Majhoul (Unknown Soldier) di lingkungan Al-Rimal, barat Kota Gaza, tenda-tenda pengungsi dilaporkan terendam banjir. Bahkan, tembok salah satu rumah runtuh dan menimpa sebuah tenda, menyebabkan sejumlah orang mengalami luka-luka.
Dalam konteks ini, juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Khalil Al-Daqran, memperingatkan meluasnya penyakit menular, khususnya penyakit pernapasan dan pencernaan, yang banyak menyerang anak-anak. Dalam pernyataannya kepada Kantor Berita Sanad, Al-Daqran menyebutkan bahwa jumlah pasien yang mendatangi rumah sakit saat ini mencapai empat kali lipat dari kapasitas tempat tidur yang tersedia.
Ia menjelaskan bahwa tekanan besar terhadap sistem kesehatan Gaza terjadi di tengah kondisi iklim yang semakin keras, dengan datangnya musim dingin, hujan, dan angin kencang, sementara fasilitas medis masih mengalami kekurangan parah akibat kehancuran dan blokade yang berkelanjutan.
Sementara itu, di Tepi Barat, seorang remaja Palestina gugur pada Senin malam akibat tembakan pasukan pendudukan Israel saat mereka melakukan penyerbuan ke kota Tuqu’, tenggara Bethlehem. Direktur Munisipalitas Tuqu’, Taysir Abu Mufreh, mengatakan kepada Kantor Berita Palestina WAFA bahwa korban bernama Ammar Yasser Sabah (17 tahun), yang meninggal dunia akibat luka tembak di bagian dada.
Abu Mufreh menjelaskan bahwa pasukan pendudukan menyerbu kota tersebut dan mengambil posisi di pusat kota, sebelum melepaskan tembakan peluru tajam secara membabi buta, yang menyebabkan Ammar terluka parah. Tim medis sempat membawanya ke klinik kota untuk mendapatkan pertolongan pertama, namun kondisinya sangat kritis hingga akhirnya dinyatakan syahid.
Ia juga melaporkan bahwa bentrokan terjadi antara warga dan pasukan pendudukan, yang menembakkan peluru tajam, gas beracun, serta bom suara, menyebabkan sejumlah warga mengalami sesak napas. Jenazah remaja syahid tersebut kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Pemerintah Beit Jala.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera



