Skip to main content

Eskalasi militer di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan agresi besar-besaran terhadap Iran pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026. Juru bicara Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran memberikan pernyataan keras bahwa Teheran akan memberikan pelajaran yang belum pernah dialami oleh Amerika Serikat dan Israel dalam sejarah mereka. Ia menegaskan bahwa setiap pangkalan militer di kawasan yang memberikan bantuan apa pun kepada Washington maupun Tel Aviv otomatis menjadi target sah bagi militer Iran. Menanggapi serangan tersebut, militer Iran segera meluncurkan rentetan rudal yang menyasar pangkalan-pangkalan militer Israel di berbagai titik sebagai bentuk pemenuhan janji pertahanan negara.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dalam pernyataan resminya nomor 1 mengonfirmasi bahwa rezim Amerika Serikat dan entitas Zionis telah melakukan operasi udara terhadap pusat-pusat di dalam negeri. Dewan tersebut menyoroti bahwa agresi ini dilakukan justru di tengah proses negosiasi yang sedang berlangsung, yang menunjukkan upaya musuh untuk memaksakan tuntutan mereka melalui tindakan pengecut. Teheran menuding Amerika Serikat sebagai aktor utama dalam agresi ini dengan Israel sebagai kaki tangannya, dan bersumpah akan menghadapi mereka dengan kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan perang 12 hari yang terjadi pada Juni tahun lalu.

Dampak kemanusiaan dari serangan ini dilaporkan sangat memilukan, terutama di wilayah selatan Iran. Jumlah korban tewas akibat serangan udara yang menghantam sebuah sekolah dasar putri di Minab, Provinsi Hormozgan, telah meningkat menjadi 57 syuhada dan 60 orang luka-luka. Pejabat administratif kota Minab, Mohammad Radmehr, melaporkan bahwa puluhan siswa lainnya masih terjebak di bawah reruntuhan sekolah, sementara operasi penyelamatan dan pembersihan puing masih terus berlangsung di bawah situasi darurat. Selain sekolah, sebuah rumah sakit di area yang sama juga dilaporkan mengalami kerusakan parsial akibat ledakan tersebut.

Di ibu kota Teheran, serangan juga memakan korban jiwa di kalangan pelajar, di mana dua siswa dilaporkan gugur di daerah Narmak. Serangan masif ini mencakup berbagai provinsi dan menyasar markas pemerintah serta infrastruktur militer, yang kemudian dibalas oleh Iran dengan menargetkan empat pangkalan udara utama Amerika Serikat di Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Dengan jatuhnya korban sipil dalam skala besar dan hancurnya fasilitas pendidikan, pihak berwenang Iran menegaskan bahwa respons mereka akan bersifat menghancurkan dan tidak akan berhenti hingga kepentingan nasional serta keamanan rakyat mereka terjamin sepenuhnya.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: O Heraldo