Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, mengecam keras penggunaan data dan teknologi yang disediakan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat oleh entitas Zionis untuk membantai rakyat Palestina, terutama anak-anak. Ia menegaskan bahwa praktik tersebut tidak dapat disebut apa pun selain kebiadaban dan kesadisan dalam arti yang paling nyata.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui akun resminya di jaringan X, Baghaei membagikan sebuah video penjelasan Pelapor Khusus PBB, Francesca Albanese, yang memaparkan bagaimana entitas Zionis memanfaatkan teknologi dan basis data buatan perusahaan Amerika untuk melacak, menargetkan, dan mengeksekusi warga sipil Palestina. Baghaei menulis bahwa apa yang diungkapkan Albanese menunjukkan wajah asli kejahatan modern, di mana teknologi digunakan sebagai alat genosida dan pembunuhan massal terhadap anak-anak.
Pernyataan tersebut muncul di tengah berlanjutnya pelanggaran entitas pendudukan terhadap perjanjian gencatan senjata yang rapuh di Jalur Gaza. Realitas di lapangan menunjukkan tumpang tindih antara kejahatan perang yang terus berlangsung dan bencana alam yang memperparah kehancuran infrastruktur serta menguras kemampuan warga untuk bertahan hidup.
Wilayah timur Kota Gaza kembali menjadi sasaran tembakan artileri Israel, beriringan dengan suara ledakan keras akibat tentara pendudukan meledakkan kendaraan lapis baja yang telah dipasangi bahan peledak di tengah kawasan permukiman di lingkungan Shuja’iyya. Tidak berhenti di situ, pasukan Israel juga menghancurkan sejumlah rumah warga di kawasan timur, dengan suara ledakan menggema di seluruh penjuru kota.
Di selatan Jalur Gaza, kota Rafah turut digempur artileri Israel, sementara aktivitas pesawat tempur intens terlihat di langit wilayah tersebut. Serangan udara juga dilancarkan secara brutal ke wilayah timur Khan Yunis, sebagai bagian dari eskalasi militer yang terus meluas di berbagai kawasan Gaza.
Pada Sabtu malam, 13 Desember 2025, tentara pendudukan Israel bersama dinas keamanan Shin Bet mengumumkan pembunuhan Raed Saad, komandan Brigade Izzuddin al-Qassam, dalam sebuah serangan yang menargetkan kendaraan di Jalan Rashid, sebelah barat Kota Gaza. Sumber-sumber Israel mengonfirmasi bahwa operasi tersebut disetujui langsung oleh kepala pemerintahan pendudukan Benjamin Netanyahu dan menteri keamanannya Yisrael Katz, tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada Washington.
Entitas pendudukan diketahui telah berulang kali mencoba membunuh Raed Saad sejak agresi besar-besaran ke Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, termasuk dua upaya pembunuhan dalam dua pekan terakhir yang sebelumnya dibatalkan pada detik-detik akhir.
Seiring eskalasi militer, Jalur Gaza juga dilanda tekanan udara rendah dalam beberapa hari terakhir. Hujan lebat dan angin kencang mengungkap tingkat kehancuran parah infrastruktur perkotaan dan layanan publik akibat bombardemen Israel yang berkepanjangan.
Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah di Gaza, Ismail al-Thawabta, memperingatkan terjadinya “bencana kemanusiaan yang kompleks” setelah bangunan-bangunan yang sebelumnya rusak akibat serangan udara runtuh karena hujan dan angin. Ia melaporkan sedikitnya 11 warga Palestina tewas dan jasad mereka berhasil dievakuasi, sementara pencarian masih terus dilakukan terhadap setidaknya satu orang yang dinyatakan hilang.
Ratusan ribu warga Palestina kini hidup dalam kondisi yang sangat keras dan tidak layak, tanpa tempat tinggal yang aman, dengan infrastruktur yang runtuh, risiko bangunan roboh yang terus meningkat, serta kemampuan lembaga lokal yang semakin terbatas untuk memberikan respons darurat.
Data Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan bahwa sejak diberlakukannya gencatan senjata, jumlah syuhada terus bertambah hingga mencapai 386 orang, sementara jumlah korban luka meningkat menjadi 1.018 orang. Dengan demikian, total korban genosida sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 70.654 syuhada dan 171.095 orang terluka.
Di bidang kesehatan, perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di wilayah Palestina yang diduduki, Rick Peppercorn, mengungkapkan bahwa sekitar 1.092 pasien di Gaza meninggal dunia saat menunggu evakuasi medis antara Juli 2024 hingga 28 November 2025. Angka tersebut mencerminkan runtuhnya sistem kesehatan Gaza dan ketidakmampuannya menyelamatkan nyawa pasien tepat waktu.
Kematian di Jalur Gaza tidak berhenti meskipun agresi Israel secara resmi telah berakhir. Ribuan keluarga Palestina kembali ke rumah-rumah mereka yang hancur setelah mencoba memperbaikinya seadanya, karena tidak memiliki alternatif tempat tinggal. Namun, dengan datangnya musim dingin dan hujan deras, bangunan-bangunan rapuh itu kembali runtuh.
Tim pertahanan sipil kini berpindah dari satu rumah ke rumah lain untuk memperingatkan warga dan menyingkirkan potensi bahaya. Sejauh ini, sekitar sepuluh orang dilaporkan tewas dan ratusan rumah runtuh akibat tekanan udara rendah yang melanda Gaza.
Petugas pertahanan sipil, Anas Abu Sabha, mengatakan bahwa lembaganya menghadapi kekurangan peralatan yang sangat parah. Ia menjelaskan bahwa warga rumah yang runtuh sebenarnya telah diminta untuk mengungsi, namun mereka menolak karena tidak ada tempat aman lain untuk dituju. Ia menegaskan bahwa pertahanan sipil bahkan tidak memiliki alat berat paling dasar seperti buldoser, setelah banyak kendaraan dan peralatan mereka dihancurkan oleh serangan Israel.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Anadolu Agency


