Skip to main content

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, pada hari Minggu, 1 Februari 2026, merilis laporan resmi mengenai jumlah korban dalam kerusuhan bersenjata yang baru-baru ini terjadi di negara tersebut. Berdasarkan data yang dihimpun, total korban mencapai 3.117 orang, dengan rincian data 2.986 orang di antaranya telah dipublikasikan secara terbuka. Pihak kepresidenan menjelaskan bahwa terdapat selisih 131 orang yang datanya belum dirilis karena identitas mereka yang belum diketahui atau adanya ketidakcocokan antara nomor identitas nasional dengan sistem pendaftaran sipil. Daftar tambahan akan segera diajukan begitu proses identifikasi selesai dilakukan.

Penerbitan daftar ini dilakukan atas perintah langsung Presiden Masoud Pezeshkian dengan mengedepankan prinsip kejujuran, transparansi, dan akuntabilitas. Data tersebut merupakan hasil kompilasi dari Organisasi Kedokteran Forensik nasional yang telah dicocokkan dengan sistem Organisasi Catatan Sipil. Dalam pernyataannya, Kantor Presiden menekankan bahwa seluruh korban adalah putra-putra bangsa ini. Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan dirinya sebagai pelindung hak-hak mereka dan menegaskan bahwa tidak boleh ada keluarga yang berduka dibiarkan dalam kesunyian tanpa dukungan dari pemerintah.

Pernyataan tersebut juga mengkritik pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh sejarah bangsa Iran yang mencoba memanfaatkan jumlah korban sebagai komoditas politik. Pemerintah Iran menegaskan bahwa setiap korban bukan sekadar angka, melainkan bagian dari komunitas dan dunia hubungan kemanusiaan yang berharga. Kewajiban moral dan kemanusiaan bagi rakyat, pemerintah, dan pihak berwenang saat ini adalah memberikan perhatian penuh dan merawat duka keluarga para korban secara bertanggung jawab.

Di saat yang bersamaan, Direktorat Jenderal Intelijen Iran di Provinsi Qazvin mengumumkan pada hari Minggu, 1 Februari 2026, keberhasilan penangkapan 158 tokoh utama yang terlibat dalam kerusuhan bersenjata. Selain itu, tujuh sel teroris di provinsi tersebut berhasil dibongkar. Pihak intelijen menyatakan bahwa beberapa individu yang ditangkap berafiliasi dengan sekte Baha’i dan kelompok Shahanshah. Dalam operasi ini, petugas menyita sejumlah barang bukti berupa 3 pucuk senjata api, 219 amunisi, berbagai jenis senjata tajam, puluhan bom molotov, serta granat tangan.

Sementara itu, intelijen Korps Garda Revolusi Islam juga melaporkan keberhasilan mereka membongkar jaringan terorganisir penyelundupan senjata di perbatasan barat Iran. Dalam operasi tersebut, sebanyak 30 pistol disita saat hendak diselundupkan ke dalam wilayah Iran. Pemerintah Iran menegaskan bahwa pasukan keamanan akan terus melanjutkan operasi terhadap kelompok-kelompok teroris yang mengancam stabilitas nasional. Meskipun protes warga awalnya dipicu oleh situasi ekonomi akibat sanksi Barat, Republik Islam Iran mengonfirmasi bahwa elemen-elemen tertentu telah mengeksploitasi protes tersebut menjadi kerusuhan bersenjata dengan dukungan pihak asing, terutama Mossad dan Amerika Serikat.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: Tehran Times