Serangan udara Israel terhadap Jalur Gaza pada Selasa, 28 Oktober 2025, mencerminkan keinginan Israel untuk memperpanjang perang di wilayah tersebut, kata analis urusan Perlawanan Palestina Hani al-Dali kepada Al Mayadeen.
Al-Dali menjelaskan bahwa kelanjutan perang ini menguntungkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang “berusaha melanjutkan politik pemerasannya dan membuktikan bahwa pendudukan masih memiliki kendali keamanan serta militer atas Jalur Gaza.”
Ia memaparkan sejumlah hambatan yang menghalangi pemulihan jenazah para tawanan Israel di Gaza. Hambatan pertama, kata dia, adalah empat jenazah yang telah “benar-benar hancur.” Hambatan kedua, sebagian jenazah berada di dalam “garis kuning,” yaitu wilayah yang ditinggalkan pasukan Israel berdasarkan kesepakatan, dan “hal ini memerlukan persetujuan dari pihak pendudukan.”
Tantangan ketiga, lanjut al-Dali, berkaitan dengan jenazah para tawanan yang dikubur jauh di dalam terowongan, yang sulit diambil tanpa menggunakan alat berat.
Pakar urusan Perlawanan itu menegaskan bahwa para mediator, khususnya Mesir, Turki, dan Qatar, memikul tanggung jawab atas kegagalan pihak pendudukan menepati komitmennya dalam tahap pertama perjanjian. Ia menambahkan bahwa “pihak yang membiarkan pendudukan melanggar kesepakatan adalah Amerika Serikat dan sejumlah negara Arab.”
Menurut al-Dali, Amerika Serikat terus memperkuat keyakinan bahwa negara itu masih memberi Israel lampu hijau untuk melanjutkan agresinya terhadap Jalur Gaza. Ia menekankan bahwa faksi-faksi Palestina tetap berkomitmen penuh untuk memastikan keberhasilan gencatan senjata.
Israel Tuduh Hamas Langgar Gencatan Senjata, Gaza Dibombardir Lagi
Sebelumnya, pasukan pendudukan Israel melancarkan serangan udara ke Jalur Gaza atas perintah Benjamin Netanyahu, yang menyebabkan sejumlah warga sipil gugur dan lainnya terluka.
Pihak Israel mengklaim bahwa serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas “pelanggaran kesepakatan oleh Hamas dan penolakannya menyerahkan jenazah para tawanan Israel,” serta menyebut adanya seorang prajurit yang terluka akibat tembakan penembak jitu di Rafah.
Sementara itu, Hamas membantah keterlibatan dalam insiden tersebut, menegaskan kembali komitmennya terhadap kesepakatan, dan menyatakan bahwa Israel justru menghalangi upaya pemulihan jenazah tentaranya sendiri dengan mencegah masuknya alat berat dan peralatan ke Gaza, yang dibutuhkan untuk mempercepat proses pencarian.
Gerakan tersebut juga menegaskan bahwa tuduhan Israel mengenai keterlambatan Perlawanan dalam menangani masalah ini tidak berdasar, dan bahwa pendudukan menggunakan klaim tersebut untuk menyesatkan opini publik serta menciptakan dalih palsu bagi agresi baru.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: BBC



