Skip to main content

Rumah sakit di Jalur Gaza mencatat satu syahid dan enam orang luka dalam 24 jam terakhir akibat agresi Israel yang masih berlangsung, menurut laporan terbaru Kementerian Kesehatan Palestina.

Laporan itu menyebutkan bahwa tim ambulans dan pertahanan sipil masih belum dapat menjangkau korban yang terjebak di bawah reruntuhan di beberapa wilayah.

Sejak gencatan senjata diumumkan pada 11 Oktober 2025, tercatat 377 orang tewas, 987 orang luka-luka, dan 626 korban telah dievakuasi.

Koresponden Al-Mayadeen di Gaza melaporkan seorang warga tewas akibat tembakan sniper Israel di Al-Atatra, Beit Lahia, Gaza utara. Pasukan Israel juga menargetkan rumah-rumah warga di Kota Tua dekat Biara Latin, mengebom lingkungan Shuja’iyya, dan melakukan pembongkaran bangunan di tengah perpindahan warga.

Para pengungsi menyatakan kekhawatiran terhadap depresi cuaca yang akan datang, dengan risiko ribuan tenda terendam air di tengah pengepungan Israel yang ketat. Pasukan Israel juga melakukan operasi pengeboman besar di persimpangan Shuja’iyya, memicu perpindahan massal warga, serta melanjutkan penghancuran bangunan di Khan Yunis, Gaza selatan, bersamaan dengan penembakan artileri berat dan penggunaan drone.

Koresponden Al-Mayadeen menegaskan bahwa agresi Israel memengaruhi seluruh wilayah Jalur Gaza, tidak terbatas pada “zona kuning”, terutama dengan eskalasi besar di wilayah timur.

Hari ini, Kantor Media Pemerintah Gaza mendokumentasikan 738 pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata.

Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) melaporkan bahwa ribuan anak di Gaza dirawat karena malnutrisi akut setelah gencatan senjata pada Oktober lalu. UNICEF mencatat 9.300 anak dirawat karena malnutrisi akut berat pada Oktober, meski jumlah ini menurun dari puncaknya pada Agustus yang melebihi 14.000 kasus, tetap jauh lebih tinggi dibanding periode gencatan senjata singkat Februari–Maret.

Juru bicara UNICEF, Tess Ingram, mengatakan, “Angka ini tetap sangat mengkhawatirkan,” dan menunjukkan jumlahnya lima kali lebih tinggi dibanding Februari, mencerminkan aliran bantuan yang masih belum mencukupi. Ia menambahkan bahwa UNICEF telah berhasil memasukkan bantuan lebih besar ke Gaza setelah perjanjian gencatan senjata, tetapi hambatan masih muncul, seperti penundaan dan penolakan pengiriman melalui pos perbatasan, penutupan jalan, dan tantangan keamanan. Selain itu, pasokan komersial masih kurang, termasuk harga daging yang tetap tinggi, sehingga banyak keluarga tidak mampu membeli dan angka malnutrisi tetap tinggi.

Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, memperingatkan dampak depresi cuaca baru yang akan melanda Gaza. Ia menekankan bahwa tenda penampungan pengungsi saat ini tidak layak menghadapi hujan atau dingin musim dingin, terutama dengan pembatasan masuknya bahan bakar oleh Israel. Qassem menegaskan perlunya operasi bantuan darurat dan penyediaan tempat tinggal yang layak oleh semua pihak terkait, serta menuntut Israel melaksanakan protokol bantuan kemanusiaan yang tercantum dalam perjanjian Januari 2025 dan dikukuhkan kembali pada Oktober 2025.

Qassem menambahkan, “Rakyat kami di Jalur Gaza masih menghadapi ancaman terus-menerus melalui pengepungan, larangan masuk tempat tinggal layak, pembatasan bantuan kemanusiaan, dan penutupan pos perbatasan. Hal ini menempatkan komunitas internasional pada tanggung jawab moral dan politik yang mendesak terhadap warga sipil.”

Malam hari, hujan akibat depresi kutub Piron menyebabkan tenda-tenda pengungsi di Gaza terendam air, memaksa keluarga-keluarga mengungsi di tengah dingin dan minimnya sumber daya serta tempat tinggal.

Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, memperingatkan bahaya depresi cuaca yang dalam. Ia mengatakan kondisi “akan sangat sulit di sektor yang telah kehilangan ribuan jiwa akibat agresi Israel dan mengalami keruntuhan di berbagai aspek kehidupan.” Basal menambahkan bahwa kamp, tempat penampungan, dan bangunan rusak “berisiko mengalami kerusakan serius dan bisa runtuh, menimbulkan korban.”

Ia menjelaskan bahwa tempat penampungan di wilayah rendah “akan tergenang sepenuhnya dan tidak ada cara untuk menyalurkan air hujan,” menekankan bahwa Gaza “akan menghadapi banjir berat akibat hujan lebat yang diperkirakan, di tengah kerusakan yang meluas di semua aspek kehidupan.”

Basal menyimpulkan, “Perang fisik mungkin telah mereda sebagian, tetapi ancaman kini kembali dalam bentuk lain melalui banjir, dingin, dan keruntuhan bangunan.” Ia menegaskan bahwa sudah waktunya komunitas internasional dan organisasi kemanusiaan bergerak cepat untuk memasok karavan ke Gaza secara manusiawi dan menyiapkan infrastruktur pendukung bagi pengungsi.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera