Tahap akhir latihan Sahand 2025 dimulai pagi ini, Jumat, 5 Desember 2025, dipimpin pasukan darat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan diikuti unit elite negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO). Komandan lapangan manuver, Brigadir Jenderal Naushad Abdari, mengatakan bahwa kerja sama administratif dan operasional antarnegara anggota terbukti efektif. Ia menegaskan bahwa pesan dari latihan ini adalah agar kelompok teroris dan negara yang berperilaku teroris memahami bahwa pasukan negara anggota memiliki kesiapan dan koordinasi tinggi, serta akan menghadapi dan menumpas setiap ancaman di mana pun muncul.
Dukungan udara dekat bagi pasukan peserta dilakukan helikopter Angkatan Udara IRGC, yang mengarahkan tembakan presisi untuk menghancurkan posisi kelompok teroris selama fase tersebut. Penilai latihan, Mayor Jenderal Farhad Arya Nafar, menyatakan bahwa pasukan darat IRGC menunjukkan kemampuan mereka dalam memerangi terorisme dengan keahlian dan metode komando modern, sehingga menegaskan peran Iran sebagai aktor berpengaruh dalam keamanan regional dan internasional.
Para pemimpin militer menekankan bahwa berbagi informasi antarnegara anggota SCO merupakan strategi efektif untuk menghadapi ancaman dan mencegah kejutan di medan operasi. Anggota Komite Antiteror SCO, Jenderal Igor Sirotkin, mengatakan bahwa meskipun Iran baru bergabung dengan SCO, negara itu mampu menjadi tuan rumah latihan antiteror berskala besar dan melaksanakannya dengan tingkat profesionalisme tinggi yang diyakinya akan menghasilkan capaian penting.
Latihan ini juga bertujuan memperkuat ketergantungan keamanan bersama antarnegara anggota SCO, termasuk upaya membentuk ruang operasi gabungan untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Sahand 2025 disebut bukan sekadar latihan militer, tetapi arena uji nyata bagi koordinasi, ketepatan, serta kemampuan respons cepat unit-unit yang menghadapi skenario ancaman teroris kompleks di wilayah latihan.
Dengan partisipasi unit antiteror negara-negara SCO dan di bawah pengawasan Pasukan Darat IRGC, manuver Sahand di barat laut Iran berakhir hari ini setelah seluruh skenario lapangan tahap akhir dilaksanakan. Skenario tersebut berfokus pada penanggulangan serangan teroris hipotetis, operasi serbu dan bertahan, serta pemanfaatan drone dan unit reaksi cepat di medan pegunungan yang sulit. Tujuannya adalah menilai kemampuan manuver presisi, koordinasi tembakan, dan pengambilan keputusan di bawah tekanan operasi tinggi.
Para komandan menekankan bahwa pentingnya latihan ini terletak pada peningkatan kesiapan bersama, pengembangan taktik modern, serta penguatan kerja sama keamanan antara Iran dan negara-negara anggota SCO dalam memerangi terorisme. Iran disebut sebagai salah satu negara yang paling banyak menjadi korban terorisme selama empat dekade terakhir dan telah mengumpulkan pengalaman luas dalam menghadapi kelompok teroris serta menggagalkan rencana mereka. Melalui latihan Sahand, Teheran berupaya membagikan pengalaman tersebut kepada para pemimpin dan unit antiteror negara anggota SCO, guna memperkuat kerja sama keamanan dan meningkatkan kesiapan menghadapi ancaman bersama.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Press TV



