Skip to main content

Juru Bicara Tentara Republik Islam Iran Mohammad Akraminia memperingatkan bahwa setiap tindakan ceroboh dari pihak musuh akan langsung dibalas dengan serangan balik seketika. Pada hari Jumat, 30 Januari 2026, Mohammad Akraminia menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan Donald Trump melancarkan serangan kilat lalu mengklaim operasi telah berakhir melalui media sosial dua jam kemudian. Ia menjelaskan bahwa kebijakan Amerika Serikat di kawasan Asia Barat sejak tahun 1970-an selalu berfokus pada tiga pilar utama, yaitu membendung komunisme, menjamin ekspor minyak ke Barat, dan memastikan keamanan entitas Zionis. Meski dokumen keamanan nasional Amerika Serikat tahun 2026 mulai memprioritaskan kehadiran militer di benua Amerika, komitmen Washington untuk membela keamanan entitas Zionis tetap tidak berubah.

Mohammad Akraminia menyoroti bahwa kegagalan kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran selama ini berakar pada salah perhitungan dan penilaian yang keliru terhadap kemampuan pertahanan Iran. Berdasarkan informasi palsu dari lawan-lawan Iran, Amerika Serikat sempat menyimpulkan bahwa Iran dalam posisi lemah setelah operasi Al-Aqsa dan mencoba pendekatan militer. Menurutnya, rencana musuh dalam perang terakhir adalah menciptakan kekacauan luas melalui operasi militer cepat untuk menggulingkan pemerintah dan memecah belah wilayah Iran. Namun, dunia justru menyaksikan kemampuan Iran untuk merespons serangan militer entitas Zionis secara instan, yang bahkan meningkatkan kohesi serta persatuan rakyat Iran melampaui kondisi sebelumnya. Ia menegaskan bahwa kekuatan pencegahan Iran telah memaksa entitas Zionis untuk melakukan gencatan senjata dalam konflik tersebut.

Mengenai potensi serangan di masa depan, Mohammad Akraminia menyatakan bahwa militer Iran telah menyiapkan rencana matang dan mengeluarkan perintah operasional untuk menghadapi berbagai skenario musuh. Ia belajar dari pengalaman perang dua belas hari bahwa menunda respons atau memberikan kesempatan bagi musuh adalah tindakan yang tidak dapat diterima. Mohammad Akraminia juga memuji peran strategis Sayyid Ali Khamenei selaku Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata yang mengambil inisiatif dalam penunjukan komandan, pengiriman pesan taktis, serta memimpin narasi perang dengan pesan kepahlawanan yang membangkitkan semangat nasional.

Di sisi lain, Mohammad Akraminia menilai sulit untuk memprediksi langkah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump karena sifatnya yang dinilai narsis dan sering mengubah perkataan. Ia mengkritik strategi kapal perang Amerika Serikat yang dianggap sebagai taktik kuno abad ke-18 untuk menekan negara target agar memberikan konsesi dalam pengayaan uranium dan kemampuan rudal. Ia memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat melancarkan serangan, serangan balik Iran tidak akan terbatas pada titik serangan awal. Jangkauan rudal dan drone Iran mampu menyasar pangkalan militer Amerika Serikat serta entitas Zionis di seluruh kawasan Asia Barat. Mohammad Akraminia menekankan bahwa serangan terhadap Iran akan memicu badai api yang menyapu seluruh kawasan, sehingga tidak masuk akal bagi Donald Trump untuk berpikir bahwa perang bisa diakhiri hanya dengan satu unggahan di media sosial.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: TRT World