Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan bahwa Republik Islam Iran pada dasarnya tidak pernah menutup pintu dialog maupun jalur diplomasi untuk menyelesaikan ketegangan internasional. Namun, dalam sebuah wawancara khusus dengan CNN pada hari Jumat, 30 Januari 2026, Mohammad Baqer Qalibaf memberikan kritik tajam terhadap rekam jejak Amerika Serikat yang menurutnya sering kali menjadikan diplomasi sebagai kedok untuk memaksakan kehendak politik secara sepihak. Ia merujuk pada keputusan Donald Trump yang menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir pada masa jabatan presiden pertamanya, padahal kesepakatan tersebut telah diakui secara resmi oleh Dewan Keamanan PBB. Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan bahwa perundingan dengan Washington hanya akan bermakna jika didasari oleh rasa saling menghargai kedaulatan dan adanya jaminan yang kredibel, bukan sekadar dikte atau tekanan militer yang merendahkan martabat bangsa Iran.
Menanggapi klaim Amerika Serikat mengenai adanya kontak diplomatik baru, Mohammad Baqer Qalibaf menekankan bahwa Iran tidak akan bersedia duduk di meja perundingan selama hak-hak ekonomi rakyat dan kedaulatan nasional mereka tidak dijamin sepenuhnya. Ia menantang Donald Trump untuk membuktikan keseriusannya dalam menciptakan perdamaian dengan cara menjauhkan diri dari lingkaran pejabat yang haus perang di sekelilingnya. Menurut Mohammad Baqer Qalibaf, dialog yang dilakukan di bawah bayang-bayang ancaman kapal induk dan kekuatan militer justru akan memicu eskalasi ketegangan yang lebih luas, yang tidak hanya merugikan Iran dan kawasan regional, tetapi juga akan berdampak buruk pada opini publik dunia serta masyarakat Amerika Serikat sendiri.
Sejalan dengan ketegasan di jalur diplomasi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengeluarkan peringatan keras mengenai kesiapan militer Iran dalam menghadapi segala bentuk provokasi asing. Melalui pernyataan resmi di platform X, Abbas Araghchi menegaskan bahwa seluruh jajaran angkatan bersenjata Iran saat ini berada dalam tingkat kesiagaan tertinggi dengan tangan yang sudah berada di pelatuk. Ia memperingatkan bahwa setiap upaya agresi yang melanggar kedaulatan wilayah, ruang udara, maupun perairan Iran akan langsung dijawab dengan balasan yang jauh lebih kuat, cepat, dan menghancurkan dibandingkan pengalaman perang sebelumnya. Abbas Araghchi menekankan bahwa kemampuan pertahanan yang dimiliki Iran saat ini adalah hasil dari pelajaran berharga selama masa konflik yang telah memperkuat mental dan taktik tempur pasukannya.
Abbas Araghchi juga memperjelas kembali posisi nuklir Iran dengan menegaskan bahwa Tehran tetap terbuka untuk mencapai kesepakatan yang adil dan setara, asalkan hak Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir damai tetap dihormati. Ia menekankan bahwa kepemilikan senjata nuklir sama sekali tidak masuk dalam kalkulasi keamanan nasional Iran dan pihaknya tidak pernah berambisi untuk memilikinya. Dengan menunjukkan kombinasi antara kesiapan militer yang tangguh dan keterbukaan diplomatik yang berprinsip, kepemimpinan Iran mengirimkan pesan kuat kepada Washington dan dunia internasional bahwa mereka hanya akan bernegosiasi dalam posisi yang sejajar sebagai negara yang berdaulat secara penuh.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Anadolu Agency

