Tentara Republik Islam Iran resmi memperkuat struktur tempurnya dengan menambah 1.000 unit drone tempur dari berbagai jenis atas perintah Panglima Tertinggi Angkatan Darat. Penambahan alat utama sistem persenjataan ini dilakukan pada hari Jumat, 30 Januari 2026, di mana drone-drone tersebut diserahkan kepada empat cabang angkatan darat setelah dikembangkan dan diproduksi secara lokal oleh spesialis militer yang bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan. Pengembangan ini disesuaikan dengan karakteristik ancaman baru serta pengalaman lapangan modern, mencakup misi ofensif, penyelaman, pengintaian, hingga peperangan elektronik yang dirancang untuk menghantam target tetap maupun bergerak di darat, laut, dan udara.
Panglima Tertinggi Angkatan Darat Republik Islam Iran Amir Hatami menegaskan bahwa pemeliharaan serta pengembangan kemampuan dan keunggulan strategis merupakan prioritas utama militer guna menjamin kesiapan dalam memberikan respons cepat dan tegas terhadap setiap potensi agresi. Di tengah eskalasi ancaman Amerika Serikat yang disertai dengan perang psikologis, Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam Ali Mohammad Naeini menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran memegang kendali penuh atas pergerakan musuh dan telah memiliki rencana operasional yang matang untuk menghadapi semua skenario. Ali Mohammad Naeini menekankan bahwa realitas di lapangan sangat berbeda dari propaganda media musuh, serta menegaskan kesiapan Korps Garda Revolusi Islam untuk menjadi perisai bagi rakyat Iran dan menggagalkan setiap konspirasi yang menargetkan stabilitas negara.
Menanggapi ancaman pejabat Amerika Serikat, Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini menyatakan bahwa militer Iran terus melakukan pemantauan cerdas terhadap pergerakan militer Amerika Serikat di kawasan. Ia merujuk pada pengalaman Pertahanan Suci yang membuktikan bahwa opsi militer terhadap Iran telah gagal dan angkatan bersenjata Iranlah yang akan menentukan akhir dari permainan perang dengan merebut inisiatif. Ali Mohammad Naeini menilai bahwa taktik menakut-nakuti rakyat melalui narasi perang dan pengiriman kapal induk merupakan trik lama pejabat Gedung Putih yang kini merasa bingung menghadapi keteguhan Iran. Setelah kegagalan penghasutan di dalam negeri, pihak Amerika Serikat dinilai sedang berusaha keras menyebarkan ketakutan palsu karena mereka menghadapi tembok penghalang berupa kohesi nasional rakyat Iran yang tidak tertembus.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pada Jumat dini hari bahwa dirinya telah melakukan kontak dengan kepemimpinan di Tehran dan berencana untuk melanjutkan upaya diplomasi tersebut. Dalam keterangannya kepada jurnalis, Donald Trump menyatakan niatnya untuk terus menjalin kontak guna membujuk Tehran agar tidak mengembangkan senjata nuklir dan tidak menggunakan kekuatan yang dianggapnya tidak proporsional terhadap para pengunjuk rasa. Meskipun mengklaim adanya upaya diplomatik, Donald Trump secara provokatif menambahkan bahwa banyak kapal Angkatan Laut Amerika Serikat yang besar dan kuat sedang menuju ke arah Iran, sembari menyatakan harapannya agar kapal-kapal tersebut tidak perlu digunakan dalam konfrontasi militer.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Jerusalem Post


