Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Abdolrahim Mousavi, melakukan kunjungan untuk menjenguk anggota pasukan keamanan yang terluka akibat serangan teroris baru-baru ini. Dalam kunjungan tersebut, Abdolrahim Mousavi menyampaikan salam dari Pemimpin Revolusi dan Republik, Sayyid Ali Khamenei, kepada para korban luka. Ia menegaskan bahwa jika saja para pemuda angkatan bersenjata ingin menghadapi perusuh dengan kekuatan senjata, masalah tersebut sebenarnya bisa diselesaikan hanya dalam waktu dua jam. Namun, ia menjelaskan bahwa para perusuh menggunakan perisai manusia dan berbaur dengan warga biasa, sehingga pasukan keamanan memilih menghadapi mereka tanpa senjata, bahkan banyak di antara petugas yang memang sejak awal dilarang menggunakan senjata api demi melindungi warga sipil.
Sejak awal tahun ini, Iran menghadapi eskalasi kerusuhan di sejumlah provinsi yang telah mengakibatkan gugurnya sekitar 300 martir, serta menimbulkan banyak korban luka dan kerusakan parah pada properti publik maupun pribadi. Pasukan keamanan Iran mengungkapkan bahwa elemen-elemen penyabotase tersebut memiliki kaitan erat dengan entitas teroris atau kelompok separatis yang bekerja demi kepentingan Mossad dan Amerika Serikat. Hingga saat ini, otoritas keamanan telah menangkap sekitar 3.000 anggota kelompok teroris yang berpartisipasi dalam kerusuhan tersebut.
Di antara ribuan orang yang ditahan, terdapat tokoh-tokoh kunci pemimpin kerusuhan, individu yang terhubung dengan entitas Israel, elemen bersenjata, serta pelaku perusakan yang terlibat langsung dalam pertumpahan darah warga Iran. Meskipun musuh terus berupaya menyulut keresahan, sumber keamanan dan media mengonfirmasi bahwa situasi di jalanan kini telah kembali tenang. Laporan lapangan dari televisi Al-Alam di Teheran mendokumentasikan berbagai kerusakan akibat ulah teroris bersenjata, termasuk pembakaran masjid, bank, dan fasilitas publik di berbagai wilayah Republik Islam.
Salah satu bukti kekejaman yang terekam adalah di Alun-alun Kebebasan, Teheran Barat, yang merupakan simbol kebebasan pasca-revolusi. Sebuah ambulans yang bertugas mengangkut orang sakit dan terluka dibakar habis oleh teroris dan perusuh dengan dukungan Amerika Serikat, Israel, dan beberapa negara Barat. Ancaman keamanan ini diperkuat dengan temuan kepolisian pada Jumat, 16 Januari 2026, yang menyita 60.000 senjata selundupan di kota Bushehr, wilayah selatan Iran, yang sedianya akan dikirim ke ibu kota.
Selain penyitaan senjata dalam jumlah besar, sumber diplomatik Iran mengonfirmasi adanya sistem pendanaan asing bagi para pelaku kerusuhan. Berdasarkan bukti dan dokumentasi yang ada, para penyerang menerima bayaran sebesar $600 untuk setiap serangan terhadap kantor polisi dan $300 untuk pembakaran kendaraan pemerintah. Sejauh ini, lebih dari 1.300 senjata api telah disita dari tangan teroris. Laporan mengenai kekejaman para penyusup ini sangat mengerikan, mencakup pembunuhan massal petugas polisi, di mana beberapa di antaranya tewas dengan cara dipenggal, serta laporan mengenai warga yang dibakar hidup-hidup oleh elemen teroris tersebut.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: The New Region


