Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan tegas mengenai potensi konflik dengan Iran dengan menyebut bahwa segala pemberitaan media mengenai kemungkinan perang selama ini ditulis secara salah dan memiliki niat sengaja yang buruk. Donald Trump menekankan bahwa dialah satu-satunya pihak yang memegang kendali atas keputusan akhir, di mana ia secara pribadi lebih memilih untuk mencapai kesepakatan diplomatik daripada tidak sama sekali. Namun, ia juga melontarkan ancaman keras dengan menyatakan bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, maka hal tersebut akan menjadi hari yang sangat buruk bagi negara Iran dan rakyatnya. Dalam pandangannya, meskipun Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Keane lebih memilih untuk menghindari perang, sang jenderal meyakini bahwa kemenangan militer akan diraih dengan mudah jika Amerika Serikat memutuskan untuk melakukan konfrontasi langsung. Di tengah retorika militer ini, sebuah jajak pendapat terbaru dari Universitas Maryland menunjukkan bahwa masyarakat Amerika Serikat sendiri terbelah, dengan 49% warga menyatakan menolak langkah pemerintah jika harus meluncurkan serangan militer ke Iran.
Menanggapi tekanan tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional Kazem Gharibabadi menegaskan pada Senin bahwa negaranya tidak akan pernah menjadi pihak yang memulai peperangan, namun akan mempertahankan kedaulatan nasional secara habis-habisan. Kazem Gharibabadi melontarkan peringatan balik yang sangat serius dengan menyatakan bahwa musuh-musuh Iran mungkin memiliki kemampuan teknis untuk memulai sebuah perang, tetapi mereka dipastikan tidak akan memiliki kemampuan untuk mengakhirinya sesuai keinginan mereka. Ia juga mengingatkan dunia internasional bahwa dampak dari pecahnya perang melawan Iran tidak akan pernah terbatas pada dua pihak yang bertikai saja, melainkan akan menjalar dan menghancurkan stabilitas negara-negara di seluruh kawasan Timur Tengah tanpa terkecuali.
Dalam forum pertemuan hak asasi manusia di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa, Kazem Gharibabadi menuduh bahwa kegagalan agresi militer di masa lalu membuat musuh-musuh Iran kini mencoba cara baru dengan menghasut kekacauan serta kerusuhan di dalam negeri. Ia menilai bahwa upaya menunggangi protes damai warga merupakan taktik untuk membuka jalan bagi agresi militer lainnya, namun ia memastikan bahwa rakyat Iran akan berdiri teguh melawan segala bentuk konspirasi tersebut. Teheran juga menegaskan bahwa hak mereka untuk memanfaatkan energi nuklir demi tujuan damai adalah hak inheren yang bersifat mengikat secara hukum internasional serta tidak dapat dinegosiasikan, apalagi ditangguhkan secara sewenang-wenang oleh kekuatan asing mana pun.
Di sisi lain, pintu diplomasi masih dibiarkan terbuka melalui proses perundingan yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Kamis mendatang. Iran memandang upaya diplomatik ini sebagai peluang baru untuk membangun kepercayaan dan meredakan ketegangan, selama negosiasi didasarkan pada rasa hormat yang setara dan tanpa penerapan standar ganda dalam hukum internasional. Namun, peluang ini dibayangi oleh tekanan waktu yang sangat sempit, di mana seorang pejabat senior Amerika Serikat mengungkapkan melalui Axios bahwa Washington hanya akan hadir dalam putaran pembicaraan Kamis nanti jika mereka menerima draf proposal nuklir yang sangat terperinci dari pihak Teheran dalam kurun waktu 48 jam ke depan. Situasi ini menempatkan proses perdamaian di ujung tanduk antara solusi meja perundingan atau eskalasi militer yang berbahaya.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Anadolu Agency


