Skip to main content

Koresponden Al-Mayadeen di Lebanon selatan melaporkan adanya ketegangan baru pada hari Rabu, 25 Februari 2026, setelah pesawat militer otoritas pendudukan Israel mengeluarkan ancaman publik yang ditujukan langsung kepada Angkatan Darat Lebanon. Aksi provokatif tersebut dibarengi dengan rentetan tembakan senapan mesin di kawasan Mazraat Sarda. Pihak Angkatan Darat Lebanon mengonfirmasi bahwa pasukan pendudukan Israel melepaskan tembakan ke arah sekitar salah satu titik pengamatan yang sedang didirikan di perbatasan selatan, tepatnya di area Sarda-Marjeyoun. Selain serangan darat, sebuah pesawat tanpa awak atau drone milik Israel dilaporkan terbang dengan ketinggian rendah sembari mengeluarkan ancaman yang bertujuan memaksa personel militer Lebanon untuk segera meninggalkan lokasi tersebut.

Rangkaian serangan dan ancaman ini merupakan bentuk pelanggaran nyata yang dilakukan Israel terhadap perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati pada 27 November 2024. Tindakan tersebut juga dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 tahun 2006 serta kedaulatan wilayah Lebanon. Militer Israel terus melakukan tindakan provokatif di saat Angkatan Darat Lebanon sedang berupaya menjalankan mandatnya untuk memperluas otoritas negara di wilayah selatan dan mendirikan pos-pos militer permanen guna melindungi perbatasan nasional dari ancaman eksternal.

Upaya Angkatan Darat Lebanon dalam membangun pos-pos militer tersebut sebenarnya merupakan bagian dari strategi pertahanan nasional untuk memastikan keamanan di wilayah selatan pasca-konflik. Namun, intimidasi yang dilakukan oleh angkatan udara dan drone Israel menunjukkan bahwa pihak pendudukan masih berupaya menghalangi stabilisasi keamanan di perbatasan. Situasi di kawasan Marjeyoun hingga saat ini dilaporkan masih sangat tegang, di mana militer Lebanon tetap berada di posisi mereka meskipun ancaman dan tembakan peringatan terus dilancarkan oleh pihak Israel dari udara maupun darat.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera