Hanya dalam waktu tiga hari sejak konflik pecah, konfrontasi antara Iran melawan Amerika Serikat dan sekutunya telah berubah menjadi perang atrisi (penghancuran daya tahan). Laporan terbaru mengungkapkan adanya ketimpangan biaya yang luar biasa dalam penggunaan sistem pertahanan udara oleh Amerika Serikat dan negara-negara Teluk dibandingkan dengan biaya produksi drone penyerang Iran. Strategi Iran menggunakan senjata murah namun masif bertujuan untuk menguras cadangan amunisi pertahanan udara sekutu, yang berpotensi melumpuhkan kemampuan mereka dalam menghadapi ancaman rudal balistik yang lebih kompleks di kemudian hari.
Hingga hari Senin, 2 Maret 2026, gelombang drone serang Shahed-136 terus menghantam berbagai target di Timur Tengah, mulai dari pangkalan militer AS, infrastruktur minyak, hingga bangunan sipil. Meskipun sistem pertahanan Patriot buatan AS di Uni Emirat Arab mencatat tingkat keberhasilan intersepsi di atas 90%, terdapat masalah ekonomi militer yang sangat serius. Penggunaan rudal pencegat seharga 4 juta dolar AS untuk menghancurkan drone yang hanya berbiaya 20.000 dolar AS menciptakan lubang besar dalam anggaran dan logistik pertahanan Barat. Analis dari Stimson Center, Kelly Greco, menyebutkan bahwa Iran sengaja menghitung bahwa para pembela akan kehabisan rudal pencegat lebih dulu, yang pada akhirnya akan meruntuhkan kemauan politik negara-negara Teluk dan menekan Amerika Serikat untuk menghentikan operasi militer.
Kondisi stok amunisi di kawasan kini berada pada titik yang mengkhawatirkan. Analisis internal yang dikutip Bloomberg pada hari Senin, 2 Maret 2026, menunjukkan bahwa cadangan rudal pencegat Patriot milik Qatar diperkirakan hanya akan bertahan selama empat hari jika tingkat penggunaan saat ini tidak berubah. Meski Kantor Media Internasional Qatar menyatakan stok mereka masih dalam kondisi baik, kekhawatiran akan habisnya amunisi tetap membayangi. Di sisi lain, Teheran diperkirakan memiliki sekitar 2.000 rudal balistik dan jumlah drone Shahed yang jauh lebih besar. Sejak awal konflik tahun ini, Iran telah meluncurkan lebih dari 1.200 proyektil, di mana sebagian besar adalah drone murah, yang mengindikasikan bahwa mereka menyimpan rudal balistik yang lebih destruktif untuk serangan berkelanjutan di masa depan.
Upaya Pentagon untuk meningkatkan produksi rudal PAC-3 dari Lockheed Martin pun belum mampu mengimbangi laju peperangan ini, mengingat hanya sekitar 600 rudal yang diproduksi hingga tahun 2025. Selain itu, penggunaan sistem THAAD oleh Arab Saudi dan UEA untuk mencegat ancaman yang lebih cepat juga memakan biaya fantastis sebesar 12 juta dolar AS per rudal. Hingga hari Senin, 2 Maret 2026, militer Israel melaporkan bahwa sistem laser Iron Beam yang diharapkan menjadi solusi murah untuk menangkal drone belum digunakan dalam konflik ini. Jika pola serangan Iran tetap konsisten, stok rudal pencegat di kawasan terancam habis dalam hitungan hari, yang dapat memaksa terjadinya kebuntuan militer atau kemenangan strategis bagi pihak yang mampu bertahan lebih lama secara logistik.
Sumber berita: Bloomberg News
Sumber gambar: The Japan Times



